Dalam sepak bola, ada keputusan yang langsung terasa salah. Ada juga yang baru terasa menyakitkan bertahun-tahun kemudian, ketika nama yang dulu dianggap “tidak perlu” kini justru bersinar di panggung tertinggi Eropa.
Di era singkat Ralf Rangnick sebagai manajer interim Manchester United, klub sebenarnya sempat berada di persimpangan penting. Sebuah keputusan transfer yang kala itu ditutup rapat, kini perlahan berubah menjadi salah satu what if terbesar dalam sejarah modern Setan Merah.
@olahbolacom Setuju gak nih sama pilihannya abang Jay? 🤩 #fyp #sepakbola #football #timnasindonesia #jayidzes
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Rangnick Mengendus Masalah Sejak Januari 2022
Rangnick menggantikan Ole Gunnar Solskjaer pada akhir 2021 dengan status pelatih sementara. Targetnya sederhana: menstabilkan tim, menjaga peluang di kompetisi, lalu beralih ke peran konsultan karena posisi MU saat itu masih cukup kompetitif di tiga kompetisi: Liga Champions, Piala FA, dan berada di posisi empat besar liga.
Namun dibalik hasil yang naik-turun, Rangnick sebenarnya sudah melihat satu persoalan krusial, lini depan MU terlalu rapuh. Kekhawatiran itu mencapai puncaknya pada bursa transfer Januari 2022.
MU kehilangan Anthony Martial yang dipinjamkan ke Sevilla, sementara Mason Greenwood harus keluar dari skuad menyusul kasus hukum serius yang menimpanya. Dalam hitungan hari, opsi penyerang MU menipis drastis.
Marcus Rashford dan Edinson Cavani belum mampu menutup celah tersebut secara konsisten ketika Cristiano Ronaldo absen. Bahkan, dalam beberapa laga, Rangnick terpaksa mendorong Paul Pogba dan Bruno Fernandes bermain lebih ke depan, sebuah solusi darurat yang jauh dari ideal.

“Setidaknya Kita Harus Mencoba”
Dalam situasi genting itu, ia merasa,MU perlu mencoba bergerak mendatangkan pemain baru.
“Saya berbicara dengan dewan direksi dan mengatakan, bukankah seharusnya kita setidaknya berdiskusi dan menganalisis apakah kita bisa mendapatkan pemain, baik dengan status pinjaman atau transfer permanen. Namun pada jawabannya adalah tidak.”
Bahkan dengan waktu yang sangat mepet, ia tetap merasa upaya tersebut layak dilakukan.
“Saya masih percaya kami seharusnya mencoba. Bahkan jika hanya punya waktu 48 jam, memang singkat tapi tetap 48 jam. Rasanya layak untuk dicoba dan dibahas secara internal. Tapi itu tidak terjadi,” kenang pelatih asal Austria tersebut.
Nama yang Kini Melesat Karena MU Meleset
Saat itu, keputusan manajemen mungkin terdengar logis. Tidak panik, tidak reaktif, tidak mengambil risiko. Namun sepak bola tidak selalu memberi hadiah pada kehati-hatian ekstrem.
Tapi dibalik kegagalan di lapangan selama enam bulan yang penuh kritik, ruang ganti panas, hingga finis di peringkat enam Premier League, Rangnick ternyata meninggalkan satu warisan penting: daftar pemain incaran yang kini terbukti visioner. Ia menyebut tiga nama yang menurutnya bisa langsung meningkatkan kualitas tim.

“Saat itu jawabannya tidak, katanya tidak ada pemain di pasar transfer yang bisa benar-benar membantu kami. Padahal ada Diaz yang ke Liverpool, Alvarez yang ke Manchester City, dan Vlahovic yang saat itu masih di Fiorentina,” ujar Rangnick dikutip dari Sky Sports.
Kalau dibaca sekarang pada 2026, rasanya seperti membaca ramalan yang terlalu akurat untuk disebut kebetulan.
BACA JUGA: Jika Tak Ada Pemain Ini, Mane 100% Gabung Manchester United
Dari Porto ke Liverpool, MU Gigit Jari
Tidak berapa lama setelah penolakan itu, Luis Diaz justru berlabuh ke rival abadi MU, Liverpool. Di bawah arahan Jurgen Klopp, pemain kelahiran 13 Januari 1997 itu berkembang pesat dan langsung memberi dampak.

Musim pertamanya di Anfield nyaris sempurna: Liverpool melaju ke final Liga Champions dan hanya kalah tipis dalam perburuan gelar liga. Cedera lutut sempat menghambat laju sang winger, tapi begitu kembali, Diaz semakin menjadi.
Ada satu hal yang selalu konsisten dari permainannya: energi tanpa henti. Pressing agresif, dribel cepat, dan keberanian duel satu lawan satu, atribut yang jujur saja sangat “Manchester United banget”. Ironisnya, justru tidak pernah ada pemain seperti itu di Old Trafford hingga saat ini.
Bersinar di Munchen, Makin Dekat Ballon d’Or?
Keputusan Diaz meninggalkan Inggris sempat mengejutkan, namun bersama Bayern Munchen, levelnya justru naik satu tingkat lagi. Di bawah komando Vincent Kompany, ia menjadi bagian vital dari mesin Bayern yang nyaris tak terbendung di Bundesliga.
Kolaborasinya dengan Harry Kane dan Michael Olise membuat lini depan Bayern menakutkan. Dengan performa konsisten di Bundesliga dan Liga Champions, Diaz kini masuk pembicaraan awal sebagai nominasi peraih Ballon d’Or 2026.
Jika Bayern mampu merengkuh Liga Champions dan Diaz tampil menonjol, peluang itu bukan sekadar angan-angan. Faktor lain tentu datang dari Piala Dunia 2026. Kolombia memang bukan favorit juara, tapi satu hal: jika Kolombia melangkah jauh, itu hampir pasti karena Luis Diaz.
Pertanyaan besarnya: bagaimana jika Manchester United saat itu mau mendengarkan Rangnick?

Kesalahan Kecil, Dampak Besar
Dalam sepak bola modern, satu keputusan transfer bisa mengubah sejarah klub. Bagi Manchester United, menolak rekomendasi Rangnick soal Luis Diaz kini terasa seperti kesalahan kecil dengan efek jangka panjang.
Saat Bayern Munchen menikmati versi terbaik Diaz, dan dunia mulai membicarakan Ballon d’Or untuknya, MU hanya bisa menatap masa lalu dan mungkin para manajemen bergumam pelan: “Andai waktu itu kami dengarkan Rangnick.”
Karena di sepak bola seperti hidup, yang terlewat sering kali lebih menyakitkan daripada yang gagal setelah dicoba.
FAKTA TERBARU:




