Kenapa Satu Desa di Ghana Fanatik pada Aston Villa?

Aston Villa adalah salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Inggris. Koleksi trofinya pun tidak main-main: tujuh gelar juara teratas Liga Inggris, tujuh Piala FA, lima Piala Liga (kini dikenal sebagai Carabao Cup) hingga satu trofi Liga Champions yang legendaris.

Menariknya, hingga bulan Desember di musim ini Aston Villa kembali menunjukkan taringnya. Di bawah asuhan Unai Emery, The Villans tampil konsisten dan kini bertengger di peringkat ketiga klasemen, bersaing langsung dengan klub-klub raksasa Premier League. Nama Villa kembali diperbincangkan, bukan sekadar karena nostalgia, tetapi juga karena performa nyata di lapangan.

Namun jika menoleh ke belakang, perjalanan Aston Villa jelas tidak selalu mulus. Dalam dua dekade terakhir, mereka bukan lagi klub yang rutin mengangkat trofi. Gelar terakhir datang lewat Piala Intertoto pada 2001, bahkan pada 2016 The Lions sempat terdegradasi dari Premier League dan harus menghabiskan tiga musim di Championship.

Anehnya, semua naik-turun itu sama sekali tidak mengurangi cinta dari sebuah desa kecil di Afrika Barat. Sekitar 8.000 kilometer dari Villa Park, ada satu tempat yang mendukung Aston Villa tanpa syarat, walaupun menang, kalah, atau imbang. Desa itu bernama Juaben, Ghana.

Bangun Jam 5 Pagi Demi Aston Villa

Menurut laporan Daily Mail, mayoritas penduduk Juaben, sebuah kota kecil di Wilayah Ashanti, Ghana adalah pendukung setia Aston Villa.

Setiap hari pertandingan, rutinitas mereka nyaris sakral. Warga bangun sejak pukul 5 pagi, mengenakan kostum biru-merah, lalu berbaris di jalanan desa. Mereka bernyanyi, menari, dan berkeliling kampung sambil menyuarakan dukungan untuk The Villa.

Bayangkan saja: saat sebagian fans di Inggris masih menguap sambil mencari kopi, di Ghana sudah ada arak-arakan penuh semangat. Kalau ini bukan cinta sejati, entah apa namanya.

Owusu Boakye, Otak di Balik “Ghana Lions”

Sosok sentral di balik fenomena ini adalah Owusu Boakye Amando, pria yang mendirikan komunitas bernama Ghana Lions.

Awalnya kecil, kini Owusu memperkirakan sudah ada lebih dari 1.000 pendukung Aston Villa di desanya, bahkan banyak di antaranya eks fans Chelsea, Manchester United, hingga Barcelona.

“Setiap akhir pekan sudah menjadi rutinitas bagi kami untuk tetap bugar agar bisa bernyanyi dan memberi dukungan selama lebih dari tiga jam,” ujar Owusu.

“Kami bernyanyi menggunakan nama-nama pemain Aston Villa, menyanyikan chant untuk lawan, dan menonton pertandingan bersama-sama.”

Bagi Owusu, mendukung Villa bukan cuma soal skor. Ini soal kebersamaan, identitas, dan kebanggaan lokal. Dan jujur saja, mengubah fans Manchester United agar pindah klub? Itu pencapaian yang lebih langka daripada trofi.

BACA JUGA: Tidak Ada Pemain Inggris, 5 Gelandang Terbaik Saat Ini Versi Scholes

Lebih dari Klub, Ini Keluarga

Menariknya, Ghana Lions bukan sekadar komunitas nonton bareng. Mereka hidup sebagai satu keluarga. Jika ada anggota yang kesulitan ekonomi, anggota lain ikut membantu. Bahkan saat ada yang menikah, komunitas ini turut memberikan dukungan finansial.

Di sinilah sepak bola menunjukkan wajah paling manusianya: bukan cuma rivalitas, tapi solidaritas.

Owusu juga mendirikan klub sepak bola Ghana Lions AVFC, yang fokus melatih anak-anak muda di Juaben. Mereka punya tim U-10, U-12, U-15, hingga U-17.

“Saya melatih anak-anak berbakat yang orang tuanya tidak mampu membayar akademi sepak bola,” kata Owusu.

“Bakat sepak bola di Wilayah Ashanti luar biasa. Jika kami punya akademi yang layak, kami bisa menghasilkan pemain hebat untuk tim nasional Ghana, Aston Villa, bahkan klub Eropa lainnya.”

Mimpi besar? Iya. Mustahil? Belum tentu.

Paul McGrath, ‘Dewa’ Aston Villa

Lalu, kenapa Owusu jatuh cinta pada Aston Villa sejak awal? Jawabannya datang dari cerita sederhana, “Kakek saya sering bercerita tentang sepak bola. Ada satu pemain yang selalu dia sebut: ‘Dewa, Dewa, Dewa’.”

“Saya bertanya, ‘Kakek, siapa Dewa ini?’ Dia menjawab, ‘Hanya ada satu Dewa, tapi dalam sepak bola namanya Paul McGrath.’”

Bagi Owusu, itulah awal segalanya.

Paul McGrath adalah bek legendaris Aston Villa yang bergabung dari Manchester United pada 1989. Ia mencatat lebih dari 300 penampilan, memenangkan dua Piala Liga, dan meraih penghargaan PFA Player of the Year 1992, prestasi langka untuk seorang bek.

Dari cerita sang kakek, cinta Owusu pada Aston Villa pun diwariskan, lalu menyebar ke seluruh desa.

FAKTA TERBARU:

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.