Nyaris ke U-17 Indonesia, Kini Tinggalkan Man City Demi Kuliah di Oxford

Meski sempat masuk radar Timnas U-17 Indonesia, perjalanan Gabriel Han Willhoft-King justru mengambil jalan berbeda dari kebanyakan pemain muda. Pemain berdarah campuran dengan ayah keturunan Inggris-India yang besar di Jakarta dan ibu berdarah China-Amerika, pernah begitu dekat untuk merapat ke TC Garuda Muda jelang Piala Dunia U-17 2023. 

Alih-alih mengejar karir profesional di sepak bola Inggris, mantan gelandang Manchester City ini memilih ruang kuliah di Oxford University. Keputusan yang tidak biasa, mengingat usia baru 19 tahun dan merupakan jebolan Tottenham Hotspur sejak umur enam tahun, sempat dilatih Yaya Toure di akademi Spurs, hingga ikut latihan bareng Kevin De Bruyne di Manchester City.

Namun seperti yang ia akui, hidup sebagai pesepakbola muda tidak selalu seindah cuplikannya.

Perjalanan dari Spurs, City, hingga Oxford

Han Willhoft-King besar di akademi Tottenham Hotspur sejak kecil. Ia ditemukan saat bermain untuk TFA, tim akar rumput di London Utara. Di sana ia tumbuh bersama dua nama yang kini jadi andalan Arsenal: Ethan Nwaneri dan Myles Lewis-Skelly.

Di Spurs, karirnya terus menanjak. Han beberapa kali dipanggil ikut latihan tim utama oleh Antonio Conte. Ia mengingat keramahan Pierre-Emile Hojbjerg dan Eric Dier, dua pemain senior yang sering membantunya beradaptasi.

Tapi cedera mulai menghambat. “Itu masa yang cukup gelap,” katanya tentang satu tahun penuh masalah fisik tersebut.

Pada 2023, ia pindah ke Manchester City U-21. Di sinilah Willhoft-King juga membeberkan sisi lain latihan Man City yang jarang diketahui publik. Ketika dipanggil Pep Guardiola sebagai bagian taktik latihan, tugas mereka sederhana tapi melelahkan.

“Latihan dengan tim utama itu lama-lama bukan hal yang kamu nantikan. Karena kamu cuma disuruh pressing. Lari kejar bola seperti anjing selama 30 menit, 60 menit. Apalagi kalau harus nge-press De Bruyne, Foden atau Gundogan, nggak bakal deh nyentuh bola,” ucapnya sambil tertawa.

@olahbolacom

Terbukti ga gampang gol-in gawang Kevin Diks 😭 Kasih saran dong, siapa selanjutnya buat kita ajak main game ini sob? #olahragatiktok #kitagaruda #borussia #kevindiks #bundesliga

♬ suara asli – OlahBola.com – OlahBola.com

Berpaling ke Dunia Akademis

Untuk ukuran pemain yang sempat masuk The Guardian Next Gen 2022, kalimat itu terdengar mengejutkan tapi juga sangat realistis. Banyak pemain muda mungkin bermimpi berada di tempatnya, tapi Han justru melihat dari perspektif berbeda, ia merasa understimulated

Apalagi cedera demi cedera membuatnya mulai mempertanyakan masa depan. Tapi alasan sebenarnya lebih dalam. Han merasa hidupnya kurang terisi dan kurang menantang secara intelektual.

“Saya selalu merasa bisa melakukan lebih. Saya seperti membuang waktu di sepak bola. Justru Oxford membuat saya bersemangat lagi.”

Ayahnya adalah mantan dosen filsafat, ibunya seorang arsitek. Tak heran minat akademis itu muncul kuat. Ia mendapatkan nilai A*, A*, A untuk matematika, ekonomi, dan sejarah.

Ia sempat diincar UCLA hingga Harvard. Bahkan sudah mendaftar ke UCLA dan menandatangani kontrak enam bulan dengan FC Cincinnati 2. Tapi tawaran dari Manchester City membuatnya menunda rencana itu.

Lalu, semuanya berubah awal musim lalu. Ia mengikuti tes Law National Aptitude Test, melamar Oxford, mengikuti wawancara, dan… diterima.

BACA JUGA: Jeremy Doku Pernah Tolak Liverpool Atas Saran Sadio Mane

Kenapa Oxford, Bukan Karier Profesional?

Han menjelaskan alasannya: “Saya tidak menikmatinya. Saya cepat bosan. Hidup pemain muda itu: latihan, pulang, dan selesai. Dibanding sekarang, saya bahkan kekurangan waktu. Saya belajar di universitas dan main untuk kampus juga.”

Ia juga memikirkan masa depan: “Misal saya main di League One atau Championship, uangnya bagus. Tapi apa saya menikmatinya? Saya tidak yakin. Karier pemain itu 10–15 tahun. Setelah itu apa? Kuliah memberi platform untuk masa depan jauh lebih panjang.”

City sebenarnya siap memberi perpanjangan kontrak. Namun ia memilih melepaskannya demi kuliah hukum di Oxford Brasenose College.

Saat dunia sepak bola terus mencari wonderkid atau bintang muda, kisah Han justru mengingatkan bahwa: Tidak semua orang diciptakan untuk mengikuti arus. Ada yang memilih jalannya sendiri. Dan untuk Han, jalannya ada di ruang kuliah Oxford, bukan Etihad Stadium.

Di Indonesia mungkin bakal di omongin, “Masa anak City lebih milih Oxford? Gue sih kalo disuruh pressing Haaland sejam juga rela!”

FAKTA TERBARU: 

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.