Timnas Indonesia asuhan Nova Arianto baru saja menutup perjalanan di Piala Dunia U-17 2025 di Qatar. Meski belum berhasil menembus fase gugur usai kalah dua kali (vs Zambia dan Brasil) dan menang sekali (vs Honduras), sorotan terhadap para pemain muda kita begitu besar. Harapan, ekspektasi, dan mimpi tentang “generasi emas” kembali ramai diperbincangkan.
Dan wajar saja, Piala Dunia U-17 memang sering jadi panggung awal para bintang besar. Phil Foden (pemain terbaik & juara Piala Dunia U-17 2017), Toni Kroos (pemain terbaik Piala Dunia U-17 2007), Cesc Fabregas (top skor & pemain terbaik Piala Dunia U-17 2003), hingga Victor Osimhen (top skor & juara Piala Dunia U-17 2015) pernah bersinar di turnamen ini sebelum menjadi superstar.
Namun, tidak semua pemain yang mengangkat trofi di level usia muda akan mendapatkan karier mulus. Ada satu kisah menarik dari skuad Inggris juara Piala Dunia U-17 2017 yang bisa menjadi pelajaran penting, termasuk bagi para pemain Indonesia hari ini.
Generasi Emas Inggris 2017, Tapi Tidak untuk Semua
Sebut saja nama-nama seperti Phil Foden, Jadon Sancho, Emile Smith Rowe, hingga Marc Guehi, mereka bukan hanya naik level dari tim juara Piala Dunia U-17 2017, tapi juga menjadi tulang punggung klub besar dan tim nasional Inggris.

Namun di balik daftar bintang itu, ada kisah lain yang jauh dari glamor. Kisah seorang pemain yang dulunya mengangkat trofi di India pada 2017, kini bekerja di kantor demi memenuhi kebutuhan hidup.
Dan kisah ini dimulai dari sosok kiper utama Inggris pada final 2017, walau namanya mungkin tak sering terdengar.
Sang Kiper yang Pernah Menyelamatkan & Mencetak Penalti
Saat Inggris mengalahkan Jepang di babak gugur Piala Dunia U-17 2017, kiper utama mereka tampil heroik. Ia bukan hanya menyelamatkan penalti, tetapi juga mencetak penalti dalam adu tos-tosan.
Ia pula yang berdiri di bawah mistar ketika Inggris mengalahkan Spanyol di final, turnamen yang mengangkat Phil Foden sebagai pemain terbaik. Dengan modal itu, banyak yang percaya ia akan melesat. Tapi hidup berkata lain.

Perjalanan kariernya berubah total setelah gagal pindah ke Blackburn dan memilih bertualang ke Amerika Serikat, sebuah keputusan yang ia sebut sebagai titik balik paling kelam.
Ia pernah berkata kepada The Times: “Saya melihat mantan rekan setim berkembang, sementara saya hanya duduk di rumah menonton TV dan berpikir: ‘Kok bisa jadi begini?’”
Barulah di bagian ini kita mengenal namanya: Curtis Anderson.
BACA JUGA: Bukan Inggris, Ini 4 Kandidat Juara Piala Dunia 2026 Versi Alexis Mac Allister
Dari Manchester City ke Liga Kasta Kesembilan
Selepas petualangan yang tidak berjalan mulus di AS padahal dengan status mantan pemain akademi Manchester City, Anderson kembali ke Inggris dan menandatangani kontrak dengan Wycombe Wanderers. Sayangnya, tiga tahun di sana ia tidak pernah sekalipun dimainkan.

Ketika pintu liga profesional terus tertutup, ia memilih jalur realistis: tetap bermain sepak bola, tapi bukan sebagai mata pencaharian.
Kini, Anderson bermain untuk Kendal Town, tim kasta ke-9 sepak bola Inggris. Sebuah lompatan ekstrim dari statusnya sebagai juara dunia usia muda. Namun justru dari keterpurukan itu, ia menemukan babak baru dalam hidupnya.
Lahirnya Karier Baru: Dari Kiper ke Pakar Finansial
Tidak ingin hidupnya hanya ditentukan oleh hasil pertandingan, Anderson memutuskan mulai belajar dunia finansial. Ia menyelesaikan pendidikan dan kini bekerja di Markland Hill Wealth sebagai penasihat keuangan.
Inspirasi itu datang dari pengalaman masa lalunya. Saat masih di Manchester City, ia menandatangani kontrak profesional, tapi dua tahun kemudian justru bangkrut.
“Kalau saya lihat ke belakang, saya bahkan tidak tahu uang itu habis ke mana,” akunya. Ia menyebut pernah membeli apartemen, mobil, dan sebuah jam Rolex yang justru jadi satu-satunya barang yang nilainya naik. “Itu satu-satunya benda yang kalau dijual sekarang, harganya lebih tinggi dari waktu saya beli.”
Ironis, tetapi dari situlah ia membantu atlet muda mengelola uang agar tidak mengulang kesalahan dirinya sendiri.
@olahbolacom Ini tim terbaik Lazio sepanjang masa versi mas Ade Govinda sebagai Laziale. Yang Laziale juga sini kumpul Sob! 👇👇 #Lazio #SerieA #Sepakbola
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Akhirnya, Dua Dunia Ia Jalani Sekaligus
Hari ini, Curtis Anderson menjalani hidup dengan dua kaki di dua dunia: Di lapangan hijau, ia tetap menjaga gawang untuk Kendal Town, dan di kantor untuk menjaga masa depan finansial para atlet.

Tidak seperti Foden atau Sancho, namanya mungkin tak lagi muncul di headline. Tapi kisahnya justru memberi kita gambaran paling manusiawi tentang sepak bola: bahwa gelar juara dunia bukan garansi masa depan, namun hanya awal dari perjalanan yang penuh pilihan.
FAKTA TERBARU:




