Usia 11 Diincar Barcelona Tapi Pilih Liverpool, Kini Jadi Teknisi Listrik

Dulu disebut sebagai salah satu bocah paling berbakat di Inggris bahkan digadang-gadang menjadi bintang besar berikutnya di lapangan hijau.

Bayangkan, di usia baru 11 tahun, ia sudah dihargai sekitar 5 juta poundsterling oleh sang agen Eric Hall sehingga menjadikannya bocah termahal di dunia sepak bola. 

Barcelona memantaunya, Manchester United mengundangnya trial, Manchester City, Everton dan Liverpool berebut tanda tangannya. Kariernya seolah sudah dipastikan melesat ke puncak.

Di Liverpool ia berbicara dengan Kenny Dalglish dan bertemu David Beckham serta Ryan Giggs di Man United. Namun hidup sering berjalan tak seperti skenario sepakbola yang indah.

Diperebutkan Raksasa Eropa, Akhirnya Pilih Liverpool

Setelah berkali-kali dipantau klub besar, mantan gelandang bernama Adam Pepper akhirnya memilih Liverpool pada usia 14 tahun lewat kontrak 6 tahun, terbagi 3 tahun level akademi dan 3 tahun level profesional. Ia tumbuh mengidolakan Steven Gerrard, dan meski dulu pendukung Everton, atmosfer Merseyside Derby membuat pilihannya mantap.

Pria kelahiran 1991 ini dikenal sebagai gelandang agresif, teknis, kreatif, dan tak pernah takut duel. Bahkan sampai sempat disamakan dengan campuran Xabi Alonso dan Wayne Rooney. Tekanan publik datang begitu cepat, dan ia mengaku sebenarnya tidak nyaman.

“Aku tidak menikmati perhatian itu karena aku orang yang cukup sensitif. Aku bahkan belum bermain di klub profesional waktu itu, tapi namaku sudah ada di koran,” tuturnya kepada The Athletic.

Coba bayangkan usia 11 tahun, kita di sekolah masih ribut soal PR matematika, sementara klub sebesar Barcelona menunggu keputusan Pepper. Ada pemain yang siap terkenal, ada juga yang tidak siap hidupnya berubah secepat itu.

Titik Balik: Cedera Mengerikan di Semifinal

Segalanya runtuh dalam satu momen tragis pada semifinal FA Youth Cup 2009. Saat mencoba mengontrol bola, terdengar suara “pop” dan ia roboh dengan rasa sakit luar biasa. Otot abductor-nya robek dari panggul.

Image ref 57300554. Copyright Rex Shutterstock No reproduction without permission. Please see www.rexfeatures.com for more information.

Ia terbaring 10 menit sebelum dipapah keluar, lalu seminggu di kursi roda. Dokter spesialis bahkan sempat menyebut karirnya bisa berakhir lebih cepat.

Pelatih akademi masih meyakinkannya bahwa ia tetap bagian penting tim. Tapi setelah Liverpool kalah di final dan staf pelatih dipecat… semua berubah.

BACA JUGA: Kisah Clattenburg Ditawari ‘Hadiah Gila’ Saat Jadi Wasit

Era Rafa Benitez: Awal dari Akhir

Perombakan akademi membuatnya dipanggil ke klub, bukan untuk kembali bermain, tapi membicarakan pemutusan kontrak. Ia mengatakan:

“Aku bahkan diabaikan oleh orang-orang yang dulu kukenal. Aku pikir aku bisa tunjukkan diriku, tapi sikap itu justru dianggap buruk. Mereka tidak ingin aku menunjukkan apa pun. Mereka hanya tidak menginginkanku,” kenang Pepper.

Meski masih punya dua tahun kontrak, reputasinya seolah hilang. Ia bahkan sempat dipaksa berlatih dengan kelompok usia 14 tahun, padahal ia sudah 18. Wajar kalau kepercayaan dirinya runtuh.

Fase Gelap: “Aku Ingin Menghilang”

Setelah keluar dari Liverpool pada 2010, ia tidak ingin lagi mendengar apapun tentang sepakbola. Ia menjual semua barang terkait karir sepak bolanya.

“Aku tidak ingin orang membicarakanku. Aku ingin menghilang. Saat itu rasanya seperti tidak ada masa depan. Aku akui, aku bahkan tidak ingin hidup lagi,” ungkap Pepper.

Ia merasa tidak punya masa depan, ia tak pernah menyelesaikan ujian kelulusan SMA karena latihan penuh waktu di Liverpool sejak usia 16.

Dari luar, mungkin orang melihat: “ah cuma cedera”. Tapi bagi seseorang yang hidupnya sejak kecil hanya sepakbola, kehilangan karir berarti kehilangan identitas.

Dari Wonderkid ke Tukang Listrik

Ia sempat bermain di Wales dan beberapa klub kecil di Inggris, tetapi tubuh dan pikirannya tidak pernah kembali seperti sebelum cedera. Akhirnya ia meninggalkan dunia sepak bola profesional. 

Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai tukang listrik di jalur kereta Merseyside.

Kisah Adam Pepper menjadi pengingat bahwa bakat terbesar sekali pun tidak menjamin takdir sepakbola berjalan mulus. Dari pemain termahal usia 11 tahun yang diperebutkan Eropa, hingga akhirnya bekerja jauh dari gemerlap stadion.

Namun ia tetap bertahan, membangun hidup baru, dan itu jauh lebih berharga daripada sekadar ketenaran dan tidak mampu bangkit dari keterpurukan.

FAKTA TERBARU: 

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.