Memilih antara Liverpool dan Manchester United bukan perkara sederhana. Bagi sebagian pemain, itu bukan sekadar soal klub, tapi soal warisan, tekanan, dan arah hidup.
Dua klub raksasa Inggris ini ibarat dua pintu besar: keduanya menjanjikan kejayaan, tapi satu langkah keliru bisa mengubah segalanya. Dan ada satu kisah nyata yang jadi pengingat keras bahwa salah pilih klub bisa jadi penyesalan seumur karir.
Yang menarik, pengakuan ini tidak datang dari pemain biasa. Ia pernah dielu-elukan, datang dengan status bintang Piala Dunia, dan dipercaya memikul harapan besar di Anfield. Tapi justru di sanalah semuanya runtuh.
“Kalau Bisa Mengulang Waktu, Saya Tidak Akan ke Sana”
Dalam sebuah wawancara tahun 2018 kepada RMC Sport, mantan pemain ini melontarkan pengakuan yang bikin fans Liverpool mengernyit.
“Kalau saya punya kesempatan lagi, saya akan memilih Manchester United atau Barcelona. Saat itu, mereka juga menginginkan saya.”
Kalimat sederhana, tapi maknanya dalam dan pedih. Apalagi mengingat rivalitas Liverpool–United yang bukan sekadar persaingan klasemen, tapi sudah masuk wilayah emosional dan historis.
Bagi fans, ini bukan sekadar penyesalan pribadi karena telah megidolakan si pemain, tapi ini seperti menyiram bensin ke api lama.
Awalnya Menjanjikan, Akhirnya Menyakitkan
Debutnya sempurna. Dua gol melawan Southampton. Stadion bergemuruh. Harapan membumbung.
Tapi seperti cinta yang terlalu cepat membara, semuanya padam lebih cepat dari dugaan. Gol makin jarang, kartu makin sering, dan hubungan dengan suporter perlahan memburuk.

Dalam tiga musim, ia hanya mencetak enam gol dari 80 pertandingan. Sebagai striker nomor sembilan di Liverpool? Angka itu bukan sekadar buruk tapi itu mimpi buruk!
Dan kalau kita jujur, fans Liga Inggris terkenal kejam soal ekspektasi. Sekali kamu gagal memenuhi standar, label itu akan menempel lama.
Insiden yang Mengubah Segalanya
Ada satu momen yang sampai hari ini masih sering disebut fans Liverpool saat membicarakan transfer terburuk klub.
Dalam laga Eropa melawan Celtic pada Maret 2003, pemain ini meludah ke arah penonton. Akibatnya? Wawancara polisi, larangan bermain dua laga, dan denda besar dari klub.
Di titik itu, semuanya runtuh. Kepercayaan pelatih, kesabaran fans, dan sisa simpati di ruang ganti habis.
BACA JUGA: Dulu Cetak 4 Gol vs Liverpool, Kini Hidup Viduka Jauh Dari Sepak Bola
Nama Besar Dari Piala Dunia 2002
Nama pemain itu adalah El Hadji Diouf. Datang sebagai pahlawan Senegal di Piala Dunia 2002, pergi sebagai salah satu figur paling dibenci dalam sejarah modern Liverpool.
Statistiknya menyakitkan, jumlah golnya (6) lebih sedikit dari kartu kuning (19) yang pernah diterimanya selama di Liverpool. Ia bahkan pernah melewati satu musim Premier League (2003/04) tanpa satu gol pun.

Bahkan sang manajer yang membawanya ke Anfield, Gerard Houllier kemudian mengakui bahwa transfer tersebut adalah salah satu kesalahan terbesarnya. “Saya berharap dulu mempertahankan Nicolas Anelka, ketimbang merekrut Diouf.”
“Diouf sebenarnya adalah pemain yang luar biasa. Secara teknis dia pemain kelas atas. Namun terkadang sikapnya, terutama kebiasaan meludahnya, justru menimbulkan banyak masalah bagi kami.”
Kalau saja ia memilih Old Trafford, ia berpeluang meraih gelar Premier League di era Sir Alex Ferguson. Tapi sejarah tidak mengenal kata “andai”.
Tak Dicintai Rekan Sendiri
Yang membuat kisah ini makin pahit: rekan setimnya sendiri tak ragu mengkritik. Salah satu legenda Liverpool, Jamie Carragher via Twitter pernah menyebutnya sebagai pemain terburuk yang pernah ia ajak bermain.
“Yang paling buruk jelas El Hadji Diouf. Sebenarnya, saya cukup menikmati bermain melawan dia, karena saat itu kamu bisa menendangnya. Kamu kan nggak bisa menendang rekan setim sendiri ketika di pertandingan.”

“Dia punya salah satu rasio gol terburuk dari semua penyerang dalam sejarah Liverpool. Dia adalah satu-satunya nomor 9 yang pernah menjalani satu musim penuh tanpa mencetak gol. Bahkan, mungkin dia satu-satunya nomor 9 di klub mana pun yang pernah melakukan itu,” tambah Carragher soal Diouf.
Legenda lain, Steven Gerrard menulis dalam autobiografinya pada 2007 bahwa sang pemain “lebih mencintai dirinya sendiri daripada klub”.
“Saya bukan penggemar berat Diouf. Selama berada di Melwood dan Anfield, saya tahu mana pemain yang lapar akan sukses, mana yang benar-benar punya Liverpool di hatinya. Diouf hanya peduli pada dirinya sendiri. Sikapnya benar-benar salah. Saya merasa dia sama sekali tidak sungguh-sungguh mau mengorbankan tubuhnya demi membawa Liverpool kembali ke puncak.”

Kalau sudah begitu, rasanya sulit untuk membela diri. Sementara mantan rekan-rekannya mengangkat trofi Liga Champions 2005, Diouf justru berkeliling klub demi klub mencari reputasi yang tak pernah benar-benar pulih.
Pelajaran Pahit dari Sebuah Penyesalan
Kisah ini bukan sekadar tentang Liverpool atau Manchester United. Ini tentang keputusan besar dalam karir, tentang momentum, dan tentang bagaimana satu pilihan bisa menentukan cara dunia mengingatmu.
Bagi fans, ini nostalgia pahit. Bagi pemain muda, ini peringatan keras. Dan bagi Diouf sendiri? Ini penyesalan yang sudah ia akui dengan jujur, meski terlambat mengakuinya.
FAKTA TERBARU:




