Dulu, publik sepak bola percaya satu hal sederhana: manajer adalah raja. Tapi Premier League 2025–26 membuktikan sebaliknya. Di balik setiap transfer ratusan juta poundsterling, ada figur yang jarang muncul di pinggir lapangan, ialah sporting director atau direktur olahraga.
Perannya? Dari negosiator ulung, ahli data, sampai “penyeimbang ego” pelatih. Tapi jangan salah: tidak semua sporting director punya kuasa yang sama. Ada yang mengendalikan segalanya, ada pula yang sekadar penasehat.
Mari kita bedah, klub demi klub di Premier league.
Sporting Director sebagai Otak Utama
Arsenal

Penunjukan Andrea Berta sebagai direktur olahraga pada Maret lalu disambut antusias, mengingat rekam jejak impresifnya selama lebih dari satu dekade di Atletico Madrid.
Pria Italia berusia 54 tahun ini memulai karier di bidang keuangan dan dikenal sebagai negosiator ulung. Hasilnya instan: belanja lebih dari £250 juta pada musim panas, termasuk kedatangan Viktor Gyokeres, Eberechi Eze, dan Noni Madueke.
Ia memimpin rekrutmen bersama CEO Richard Garlick, manajer Mikel Arteta, dan co-chair Josh Kroenke. Kalau Arsenal main catur, Berta jelas pemain yang mikir 10 langkah ke depan karena contoh sporting director ideal versi modern.
Brentford

Phil Giles adalah anomali indah Premier League yang menjadi arsitek kesuksesan Brentford dengan menjabat direktur sepak bola sejak 2015 dengan latar belakang matematika, bukan mantan pemain. Tapi justru di situlah kekuatannya, ia mengembangkan filosofi klub yang sangat berbasis data.
Bahkan saat Thomas Frank pergi, sistem tetap jalan sekalipun Giles mempromosikan pelatih set-pieces Keith Andrews sebagai manajer klub padahal belum pernah melatih sebelumnya. Giles bertanggung jawab atas strategi besar, manajemen skuad, kontrak, dan rekrutmen bersama direktur teknis Lee Dykes.
Brighton & Hove Albion
Brighton hampir jadi “template klub modern”. Jason Ayto, mantan kepala pencarian pemain dari Arsenal, kini ditunjuk sebagai direktur olahraga untuk melanjutkan tradisi data-driven ala pemilik klub Tony Bloom. Sporting director di sini bukan selebritas, tapi penjaga sistem. Siapa pun pelatihnya, pola tetap jalan.
Liverpool

Richard Hughes, mantan direktur teknis Bournemouth, ditunjuk sebagai direktur olahraga oleh Michael Edwards (Chief Executive of Football Liverpool).
Hughes berperan besar dalam penunjukan Arne Slot dan memimpin belanja besar musim panas lalu, meski tetap berada di bawah Edwards sebagai pengambil keputusan tertinggi di urusan sepak bola Liverpool.
@olahbolacom Bukan soal skill, tapi waktu kebersamaan yang jadi kelemahan Timnas Indonesia. Sekarang udah nggak ada alasan: talenta ada, pelatih berpengalaman, chemistry sudah terbentuk, targetnya jelas ke Piala Dunia 2030 🔥 Siap bikin sejarah, Garuda? 🇮🇩🦅 #AseanChampionship2026 #HyundaiCup #AseanUtdFC
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Sporting Director Hanya Ikut Arus
Aston Villa

Roberto Olabe, mantan rekan setim Unai Emery di Real Sociedad, ditunjuk sebagai presiden operasional sepak bola untuk menggantikan Monchi yang kembali ke Spanyol.
Olabe dipuji atas kinerjanya di Sociedad, termasuk jual-beli Alexander Isak, peminjaman Martin Odegaard, dan pengembangan Martin Zubimendi. Meski demikian, Emery tetap menjadi figur paling berkuasa di Villa, manajer sekaligus pengambil keputusan utama.
Fulham
Tony Khan menjadi direktur olahraga sejak 2017, dengan pendekatan berbasis analitik. Ia memegang data dan negosiasi, tapi Marco Silva memiliki pengaruh besar dalam transfer dan pembangunan tim, sehingga membuat Fulham sangat bergantung padanya.
Crystal Palace
Matt Hobbs menjadi direktur olahraga, tapi pemilik klub Steve Parish yang menentukan segalanya. Palace adalah contoh klub di mana owner tetap kingmaker. Sporting director lebih sebagai operator bukan penentu arah.
Newcastle United
Setelah kegagalan dengan beberapa direktur sebelumnya, Ross Wilson yang ditunjuk pada Oktober datang untuk menenangkan. Ia dikenal komunikatif dan berperan luas, dari rekrutmen hingga akademi dan tim putri. Di sini, sporting director bertugas merapikan rel, bukan mengubah arah kereta. Eddie Howe tetap memiliki pengaruh besar.
Nottingham Forest

Edu menjabat sebagai kepala global sepak bola Forest yang bekerja sama dengan George Syrianos sebagai direktur teknis global, dalam rekrutmen pemain. Tapi pemilik klub Evangelos Marinakis tetap sentral. Dalam kondisi seperti ini, sporting director bukan pengarah, tapi penyeimbang insting pemilik.
BACA JUGA: Usia 11 Diincar Barcelona Tapi Pilih Liverpool, Kini Jadi Teknisi Listrik
Model Ribet Tapi Ambisius
Chelsea
Tarik napas. Chelsea memiliki lima direktur olahraga sejak akuisisi Todd Boehly–Clearlake Capital pada 2022. Sistem ini bertujuan mencegah kekuasaan terpusat pada satu individu. Teorinya: pembagian tugas bikin klub stabil. Praktiknya? Pelatih harus jago politik internal.
Paul Winstanley dan Laurence Stewart memimpin rekrutmen, didukung Joe Shields (scouting), Dave Fallows (pengembangan sepak bola), dan Sam Jewell (rekrutmen Chelsea serta Strasbourg). Pelatih baru Liam Rosenior harus beradaptasi dengan struktur kompleks ini.
Everton
Tanpa satu direktur olahraga tunggal, Everton membagi peran ke banyak kepala: data, scouting, trading. Moyes tetap memegang keputusan akhir transfer.
Sunderland

Punya dua otak: Kristjaan Speakman (strategi) dan Florent Ghisolfi (eksekusi). Kolaborasi mereka, berbasis data dan pengembangan pemain muda, membawa transformasi besar. Ini contoh dual leadership yang justru sinkron, jarang tapi efektif.
Sporting Director Kacau
Manchester United

Jason Wilcox datang dengan harapan besar, tapi hasilnya? Konflik dan pemecatan pelatih yang terasa teatrikal. Struktur ada, arah tidak. Di United, masalahnya bukan kurang pintar, tapi terlalu banyak ego tanpa kompas.
West Ham United
Tidak ada visi rekrutmen yang konsisten. Kadang berbasis data pelatih Nuno Espírito Santo, kadang insting pemilik klub David Sullivan. Sporting director tradisional? Tidak ada. Hasilnya inkonsisten, seperti ganti strategi tiap hujan turun.
Model Struktur Stabil
Bournemouth
Bournemouth bukan klub yang berisik, tapi justru itu kekuatannya. Tiago Pinto yang diangkat sebagai presiden operasi sepak bola klub pada akhir musim 2023-24, bekerja bersama direktur teknis Simon Francis dan CEO Neill Blake.
Fokus mereka jelas: jual mahal tanpa panik. Dalam 12 bulan terakhir, Pinto berhasil memfasilitasi penjualan Dean Huijsen, Milos Kerkez, dan Antoine Semenyo dengan total nilai lebih dari £150 juta. Ia mengakui sulit menahan pemain ketika klub besar datang, namun tetap mampu menemukan nilai tinggi di pasar.
Burnley
Burnley memilih jalan lama: tanpa sporting director tunggal. Keputusan kolektif yang terdiri dari pemilik klub Alan Pace, manajer Scott Parker, dan COO Matt Williams. Aman? Ya. Visioner? Belum tentu. Cocok untuk klub yang fokus bertahan hidup. Karena keputusan akhir belanja pemain tetap di tangan manajer.
Leeds United
Adam Underwood adalah mantan manajer akademi, dipromosikan menjadi direktur olahraga. Model Leeds menekankan kesinambungan akademi ke tim utama. Tidak glamor, tapi rapi. Cocok buat klub yang ingin tumbuh pelan tapi pasti.
Wolverhampton Wanderers
Matt Jackson adalah direktur teknis klub yang bekerja dekat dengan sang manajer. Wolves memilih pragmatis: yang penting pelatih nyaman dan proses jalan. Tidak seksi, tapi fungsional.
Model Elite & Mesin Klub Sudah Jalan
Manchester City

Hugo Viana datang menggantikan Txiki Begiristain bukan untuk revolusi, tapi maintenance mesin sempurna. Dengan Pep Guardiola, CEO Ferran Soriano, dan ketua klub Khaldoon al-Mubarak, tugas Viana relatif ringan. City adalah contoh klub di mana sporting director tidak perlu jadi pahlawan. Sistem sudah terlalu matang untuk gagal.
Klub Masih Mencari Formula Ideal
Tottenham Hotspur

Fabio Paratici dan Johan Lange sempat jadi duet sebagai direktur olahraga Spurs, tapi arah kembali berubah karena Paratici akan pindah ke Fiorentina setelah Januari.
Lange kini memegang peran lebih besar, meski rekrutmennya kerap dikritik karena masih mencari bentuk ideal antara data pemain, jaringan klub, dan insting.
Sepak Bola Modern Itu Soal Orang di Balik Meja
Di era Premier League hari ini, kemenangan tak cuma ditentukan di kotak penalti, tapi juga di ruang rapat. Siapa paling berkuasa? Jawabannya berbeda di tiap klub. Tapi satu hal pasti: sporting director bukan lagi figuran. Pelatih fokus di lapangan, sporting director fokus untuk masa depan klub.
Dan buat fans? Mungkin sudah saatnya berhenti hanya marah ke pelatih atau manajer saja, karena sering kali keputusan terbesar datang dari orang yang bahkan tak pernah berdiri di touchline lapangan.
FAKTA TERBARU:




