Masa depan Marc Guehi akhirnya menemui titik terang setelah setuju dengan nilai transfer 20 juta poundsterling atau sekitar 452 miliar rupiah. Bek timnas Inggris berusia 25 tahun itu memilih merapat ke Manchester City, klub yang ironisnya pernah ia kalahkan di final Piala FA 2024/25 bersama Crystal Palace.
Bagi City, ini bukan sekadar transfer karena ia diproyeksikan untuk menambah kedalaman lini belakang City, yang tengah dilanda krisis pemain bertahan akibat cedera Josko Gvardiol dan Ruben Dias.

Bagi Guehi yang sebelumnya sempat dikaitkan dengan sejumlah klub elite Eropa dan nyaris bergabung dengan Liverpool musim panas lalu, ini adalah kelanjutan dari perjalanan panjang yang tidak selalu mulus, tidak selalu glamor, dan jauh dari cerita “anak ajaib instan”.
@olahbolacom Ricardinho: Falcao adalah GOAT futsal dunia 👏 Ketika pemain futsal terbaik dunia 6x mengakui bahwa GOAT futsal justru pemain terbaik dunia 4x, Falcao. Kalau versi kamu sob, GOAT futsal: Ricardinho 🇵🇹 atau Falcao 🇧🇷? #xseries #falcao #ricardinho #futsal
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Dari Akademi Elite ke Awal Karir yang Pahit
Nama Guehi besar di akademi Chelsea, tapi justru masa peminjamannya ke Swansea City yang membentuk mentalnya.
Ia pernah berada di fase yang jarang dibicarakan highlight YouTube: duduk di bangku cadangan, tak ikut perjalanan tim, dan harus menerima kenyataan pahit dunia sepak bola profesional.

“Itu tidak membangunkan saya, tapi menempatkan saya kembali ke tempat yang seharusnya. Itu benar-benar membantu saya memahami dunia sepak bola dengan lebih baik,” ujar Guehi dalam wawancara bersama BBC Sport.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi buat pemain muda, itu momen penting: apakah menyerah, atau justru tumbuh?
Dua Sosok Penentu: Routledge dan Dyer

Di Swansea, Guehi banyak belajar bukan hanya soal bertahan, tapi soal menjadi diri sendiri. Nasihat dari Wayne Routledge dan Nathan Dyer masih ia pegang hingga kini.
“Mereka bilang, tetaplah jadi diri sendiri dan maksimalkan itu. Kalau kamu bukan dirimu sendiri, apa gunanya?”
Kadang, nasihat paling berdampak bukan datang dari ruang taktik, tapi dari obrolan sederhana yang datang di waktu yang tepat.
BACA JUGA: Mengapa Mourinho dan Guardiola Berubah dari Sahabat Jadi Rival?
Iman, Keluarga, dan Sepak Bola Hari Minggu
Ayah Guehi adalah pendeta gereja. Artinya, sepak bola bukan selalu prioritas nomor satu di keluarganya. Bahkan, ada masa ketika ia tidak bisa menonton langsung pertandingan karena harus berada di gereja.
“Tuhan adalah yang utama,” kata Guehi, merujuk pada nilai yang ia pegang sejak kecil.
Rutinitas keluarga mereka unik: ibadah pukul 10.30, selesai 12.30, lalu ngebut ke stadion jika kick-off jam 14.00. Guehi mengaku keluarganya datang ke sebagian besar laga kandang, tapi tidak ke laga tandang.
Marc Guehi di Luar Lapangan

Kalau di lapangan serius, di rumah? Jangan salah. “Keluarga saya bakal bilang saya itu troll. Saya suka bercanda dan ngerjain orang. Saya memang terlihat sangat serius, tapi tidak di mata mereka,” ungkap Guehi.
Ia suka musik, mencoba DJ-ing, pernah jadi drummer di gereja, dan gemar ke bioskop sendirian. Alasannya simpel dan jujur: “Karena sudah jarang ada orang ke bioskop.”
Film favoritnya adalah Limitless. “Saya suka Bradley Cooper. Kalian harus nonton. Saya benar-benar suka film itu.”
Mimpi Paling Unik: Jadi Pegulat WWE
Ini bagian yang bikin senyum. Jika tidak jadi pesepak bola, Guehi ingin jadi pegulat WWE. Bukan karena berantemnya, tapi karena performanya.
“Saya ingin sekali menjadi pegulat WWE. Sejak kecil saya menonton WWE. Sekarang ada di Netflix. Saya benar-benar ingin jadi pegulat WWE. Memang berbahaya, tapi saya cukup jago ngomong di mic, membuat orang percaya apakah kamu itu tokoh jahat atau tokoh baik,” tutur Guehi.

Bayangkan: Marc Guehi Royal Rumble di ring, lalu Senin paginya latihan bertahan lawan Haaland. Multiverse sepak bola yang menarik.
Ambisi Terakhir: Bermain Sampai Usia 40
Di era modern, target ini terdengar gila, tapi justru itu poinnya.
“Bermain sampai 40 tahun adalah bukti profesionalisme. Menang trofi itu luar biasa dan bermain di berbagai kompetisi juga hebat, tapi pasti akan ada cedera dan itu tidak bisa dihindari. Dengan izin Tuhan, saya ingin bisa bermain selama itu,” ujar Guehi.

Bukan trofi yang ia kejar semata, tapi konsistensi, disiplin, dan umur panjang di level tertinggi. Filosofi yang sangat “City”, dan mungkin jadi alasan kenapa Pep dan manajemen jatuh hati.
FAKTA TERBARU:




