Jika rivalitas sepak bola adalah drama, maka Sir Alex Ferguson vs Arsene Wenger adalah sinetron prime time dengan rating tertinggi di Inggris awal 2000-an.
Bukan hanya soal gol, kartu merah, atau trofi Premier League, tapi juga perang kata yang tajam, sarkastik, dan kadang kejam tapi lucu.
Sejak Wenger datang ke Arsenal pada 1996, Premier League berubah. Dan sejak saat itu pula, Ferguson seperti menemukan lawan debat yang tidak bisa dia diamkan.
Awal Mula: “Siapa Orang Ini?”

Ketika Arsene Wenger ditunjuk Arsenal pada 1996, banyak orang Inggris bertanya-tanya. Datang dari Jepang, tanpa reputasi besar di Eropa, Wenger dianggap asing.
Ferguson? Lebih blak-blakan. “Mereka bilang dia orang pintar, ya? Bisa lima bahasa? Saya punya anak 15 tahun dari Pantai Gading yang bisa lima bahasa.”
Pedas. Tidak perlu VAR untuk memastikan itu pelanggaran verbal. Di titik ini, Fergie seperti netizen sepak bola era sekarang: skeptis, sinis, dan sedikit iri.
Obsesi Jepang yang Tak Pernah Selesai
Ferguson benar-benar punya satu “kata kunci” setiap kali membahas Wenger: Jepang.
“Dia tidak punya pengalaman. Datang dari Jepang, lalu sekarang mengajari orang Inggris cara mengatur sepak bola.”
Belum cukup.
“Arsene Wenger itu dari Jepang. Dia tidak tahu apa-apa soal tuntutan sepak bola Inggris.”
Dan pamungkasnya: “Dia masih pemula. Sebaiknya dia simpan opininya untuk sepak bola Jepang saja.”
@olahbolacom Pantesan Havertz sempat di jadiin bek di Timnas Jerman 😜 #fyp #sepakbola #football #arsenal #kaihavertz
♬ Pachanga Roni joni Edit – Roni Joni
“Arsenal Dulu Klub Besar”
April 1997, Manchester United sedang berada di fase jadwal super padat: Main di Premier League, masih bertahan di kompetisi Eropa dan harus memainkan 4 pertandingan dalam 8 hari.
Manchester United kemudian meminta Premier League untuk sedikit melonggarkan jadwal demi mengurangi kelelahan pemain.
Masalahnya? Arsene Wenger ikut berkomentar, dan ia menolak usulan tersebut. Wenger merasa: Jadwal padat adalah bagian dari kompetisi sehingga tidak adil jika aturan diubah demi satu klub. Oleh karena itu, klub harus siap menghadapi konsekuensi kalender pertandingan.
Bagi Ferguson, ini dianggap ikut campur urusan Manchester United. “Mungkin dia sebaiknya fokus pada tekel Ian Wright, bukan Manchester United.”
Saat itu, Ian Wright (striker Arsenal) dikenal sebagai pemain agresif, sering melakukan tekel keras dan beberapa kali terlibat insiden kontroversial.
Lalu datang kalimat dari Ferguson yang bikin fans Arsenal panas bertahun-tahun: “Dia di klub besar, yah, Arsenal dulu klub besar.”
Kalimat pendek, tapi efeknya panjang. Bahkan sampai era Emirates.
Wenger Balas dengan Kelas (2001–02)
Musim 2001-02, Arsenal juara. Ferguson bilang walau Manchester United di peringkat tiga, sebenarnya tim lebih baik.
Wenger? Tidak berteriak. Tidak marah. Cukup satu kalimat: “Semua orang merasa istrinya yang paling cantik di rumah.”
Kalimat elegan, berkelas, dan mematikan. Seperti sepak bola Arsenal era itu.
BACA JUGA: 8 Transfer Aneh yang Direkrut Bukan Karena Skill, Lalu Apa?
Nistelrooy & Api yang Membesar
Kedatangan Ruud van Nistelrooy ke Manchester United membuat rivalitas Arsenal–United naik satu level. Ia bukan hanya striker tajam, tapi juga sosok yang piawai memainkan emosi lawan. Semua itu meledak pada laga yang kemudian dikenal sebagai Battle of Old Trafford pada September 2003.
Patrick Vieira dikartu merah setelah insiden kecil dengan Van Nistelrooy, sementara Arsenal harus bertahan dengan sepuluh pemain. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Manchester United mendapat penalti di menit-menit akhir. Ruud maju, stadion menahan napas, dan bola justru menghantam mistar gawang.

Kegagalan itu memicu reaksi keras pemain Arsenal, yang mengejek Van Nistelrooy tepat di wajahnya. FA kemudian menjatuhkan hukuman, dan sorotan publik pun tertuju pada sikap Arsenal.
Namun Wenger memilih berdiri di sisi anak asuhnya. Ia menilai Van Nistelrooy kerap “mencari cara untuk jatuh”, sebuah pernyataan yang bukan sekadar sindiran, melainkan penegasan bahwa api rivalitas itu tidak muncul begitu saja, ada yang sengaja meniupkannya.
Pizzagate: Saat Rivalitas Jadi Legenda
Klimaks rivalitas Arsenal dan Manchester United akhirnya tiba pada Oktober 2004, malam ketika rekor 49 laga tak terkalahkan Arsenal resmi berakhir di Old Trafford. Laga itu penuh kontroversi: tekel-tekel keras yang lolos dari hukuman, penalti Wayne Rooney yang diperdebatkan, dan keputusan wasit yang membuat kubu Arsenal merasa dikhianati.
Saat peluit panjang berbunyi, emosi tak lagi bisa dibendung, kekalahan itu terasa lebih menyakitkan dari sekadar kehilangan tiga poin.
Ketegangan berlanjut ke lorong stadion. Di ruang sempit yang panas dan penuh kata-kata tajam, sebuah potongan pizza melayang dan mengenai wajah Sir Alex Ferguson. Momen itu langsung menjadi legenda, meski pelakunya baru terungkap bertahun-tahun kemudian: Cesc Fabregas, yang saat itu masih remaja.
Ferguson murka, menyebut insiden tersebut sebagai “hal terburuk yang pernah saya lihat dalam olahraga ini,” seolah rivalitas dua klub terbesar Inggris telah melewati batas sportivitas.
Namun Arsene Wenger menolak tunduk pada narasi tersebut. Alih-alih meminta maaf, ia justru balik menyerang, menilai Ferguson sebagai sosok yang mencari konfrontasi lalu menuntut simpati.
“Ferguson sudah kehilangan rasa realitas. Dia mencari konfrontasi, lalu menyuruh orang lain minta maaf.”
Akhir Perang, Awal Respect

Kedatangan Jose Mourinho ke Chelsea secara ironis justru mendamaikan Fergie dan Wenger. Musuh baru, musuh bersama. Pada 2004, Wenger akhirnya memilih berhenti merespons.
“Ferguson melakukan apa yang dia mau dan kalian semua tunduk padanya. Dia tidak menarik bagi saya. Saya tidak akan menanggapi provokasinya lagi.”
Fergie vs Wenger bukan sekadar Manchester United vs Arsenal. Ini adalah era ketika sepak bola Inggris punya narasi, emosi, dan karakter kuat di pinggir lapangan.
Sekarang? Pelatih lebih diplomatis. Lebih hati-hati. Lebih PR-friendly. Dan jujur saja, kita merindukan era ketika pelatih bisa saling sindir tanpa filter.
FAKTA TERBARU:




