Ada yang tahu pertandingan ketika Vanuatu U-23 mengalahkan Mikronesia dengan skor 46-0 di Pacific Games 2015? Tenang, kalau tidak tahu, kamu tidak sendirian, bahkan banyak fans sepak bola dunia juga “lupa-lupa ingat”.
Skor gila yang terjadi satu dekade lalu itu bukan hanya soal angka. Ada cerita lengkap di balik layar yang jauh lebih menarik dari sekadar tabel klasemen.
Pertandingan yang Jadi Legenda

Laga ini berlangsung di Papua Nugini sebagai bagian dari Pacific Games U-23. Menariknya, Mikronesia hanya membawa 18 pemain, bukan 23 seperti mayoritas tim lain. Kondisi mereka pun jauh dari ideal:
- Laga pertama dibantai 30-0 oleh Tahiti
- Laga kedua dibombardir 38-0 oleh Fiji
- Laga ketiga harus menghadapi Vanuatu yang wajib menang minimal 38 gol
Bayangkan main turnamen, kebobolan 30, 38, terus di laga terakhir penyishan grup harus ketemu tim yang memang butuh membantai tim kamu lagi. Berat banget kan.
@olahbolacom Zidan ternyata cepet juga ya belajar Bahasa Indonesia langsung bisa sebut Tepung Beras beserta Brandnya lagi! 🤣 Hallo Tepung Beras RB! Bisa kaliiii 🤣 #fyp #FootballAsItsMeantToBe #Bundesliga #BundesligaInAsia #BVBLegendsTour #MoreThanJustaMatch
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Vanuatu Mengejar Target ‘Tak Masuk Akal’
Vanuatu masuk pertandingan ini dengan satu misi: menang dengan margin minimal 38 gol. Dan mereka melakukannya dengan cukup cepat.
Di menit ke-66, skor sudah 38-0. Bahkan striker mereka, Jean Kaltak, mencetak 16 gol seorang diri (iya, kalian tidak salah baca).

Pertandingan akhirnya berakhir 46-0, menjadikannya salah satu kemenangan terbesar di level internasional, meski tidak resmi karena Mikronesia bukan anggota FIFA.
Saat ini, ranking FIFA Vanuatu adalah 161, di atas tipis dari Myanmar (163) sehingga jauh dari kata “tim kuat”, tapi hari itu mereka tampil seperti prime Brazil 2000-an.
Namun Semua Usaha Itu Sia-Sia
Ironis banget. Vanuatu sudah jungkir balik bikin rekor, tapi hasilnya? Gagal lolos ke semifinal.
Laga terakhir lainnya di grup ini, Tahiti dan Fiji bermain aman, imbang 0-0, membuat Vanuatu tetap berada di peringkat ketiga.
Semua kerja keras 90 menit itu? Sia-sia.
BACA JUGA: Bebas Dari Penjara, Kini Hidup Dani Alves Berubah 180 Derajat
Jangan Tertawakan Mikronesia
Seperti yang ditulis di Wikipedia tentang tim nasional mereka: “Ada banyak pemain yang baru pertama kali bermain di lapangan 11 lawan 11.”

Lebih ekstrim lagi, sebagian pemain bahkan belum pernah keluar dari desa mereka, apalagi pulau mereka. Jadi wajar kalau mereka kaget bermain di kompetisi besar.
Dan inilah bagian paling “manusiawi”: Setelah kebobolan 114 gol dalam 3 pertandingan, banyak pemain justru bilang ingin menjadi kiper. Kenapa?
Karena sang kiper selalu mendapat sorakan penonton setiap kali berhasil melakukan penyelamatan.
Mikronesia: Negara Kecil dengan Wilayah yang Luas

Biar lebih jelas, mari kenalan sedikit dengan Mikronesia. Federated States of Micronesia terdiri dari 607 pulau kecil yang tersebar di Samudra Pasifik bagian barat, sekitar 2.900 km di utara Australia.
Walaupun daratannya kecil, wilayah lautnya lima kali lebih luas dari Prancis, tapi penduduknya tersebar di berbagai pulau terpencil. Total penduduknya juga tidak besar, hanya sedikit di atas 100 ribu orang.
Kehidupan utama masyarakatnya berbasis perikanan tradisional dan pertanian, jadi tidak heran jika pengalaman sepak bola modern seperti lapangan besar, stadion penuh, turnamen internasional, bagi sebagian pemain mereka terasa sangat baru dan di luar zona nyaman.
‘Tim Terburuk’ Pulang dengan Bangga

Walau media internasional menyebut mereka sebagai “tim terburuk yang pernah ada”, sambutan di negara mereka justru hangat. Mereka dipuji karena tetap bermain dengan attitude yang bagus sampai akhir.
Dan karena Mikronesia tidak terdaftar di FIFA, rekor resmi skor terbesar tetap milik Australia dengan skor 31-0 American Samoa (2001).
Tetap saja skor 46-0 Vanuatu akan selalu hidup sebagai cerita paling absurd namun menarik di dunia sepak bola.
FAKTA TERBARU:




