Ilustrasi Giorgio Chiellini menunjuk arah dengan potret Mario Balotelli, menggambarkan konflik rekan setim
Termasuk Balotelli, Chiellini Ungkap Dua Rekan Terburuk

Tidak banyak bek yang bisa disebut legenda hidup seperti Giorgio Chiellini. Sembilan gelar Serie A bersama Juventus, lalu menutup karir internasional dengan trofi Euro bersama Italia, rekam jejaknya hampir tanpa cela.

Tapi justru karena reputasinya itulah, satu pengakuan Chiellini ini bikin banyak orang terkejut. Bukan soal trofi. Bukan soal rival terberat. Melainkan dua rekan setim yang ia sebut sebagai yang terburuk sepanjang karirnya.

Dan ya, namanya besar semua.

Dua Nama yang Tak Disangka

Dalam autobiografinya Io, Giorgio, Chiellini tanpa basa-basi menyebut Mario Balotelli dan Felipe Melo sebagai dua pemain terburuk yang pernah bermain bersamanya. Bukan karena kualitas teknik, tapi karena satu hal yang menurut Chiellini sangat fatal di ruang ganti: tidak punya rasa hormat.

Tentang Balotelli, Chiellini menulis dalam bukunya, “Balotelli adalah orang yang negatif, tidak punya rasa hormat pada tim. Saat Piala Konfederasi 2013 melawan Brasil, dia tidak mau membantu apa pun. Sejujurnya, dia pantas ditampar.”

Giorgio Chiellini dan Mario Balotelli terlihat dalam sesi latihan Timnas Italia bersama Andrea Pirlo

Pedas? Banget. Apalagi kala itu mereka dihajar 4-2 oleh Brasil dimana salah satu gol ikut disumbangkan oleh sang bek. Lanjut Chiellini menyinggung reputasi Balotelli saat itu:

“Ada yang menganggap dia striker lima besar dunia. Saya bahkan tidak pernah menganggapnya masuk 10 besar, atau 20 besar.”

Sebagai catatan, Chiellini dan Balotelli bermain bersama 22 kali di Timnas Italia, menang 10 kali, kalah 7 kali. Termasuk di Euro 2012, saat Italia melaju hingga final sebelum dihajar Spanyol. Jadi ini bukan opini dari pemain cadangan, tapi rekan yang benar-benar hidup bareng di lapangan dan ruang ganti.

Yang Lebih Buruk Lagi? Felipe Melo

Kalau kamu mengira Balotelli sudah paling parah, Chiellini punya satu nama lagi yang menurutnya lebih buruk dari Balotelli.

“Namun, ada seseorang yang lebih buruk: Felipe Melo. Benar-benar yang terburuk dari yang terburuk.”

Chiellini menggambarkan Melo sebagai sosok yang selalu memancing konflik: “Saya tidak tahan dengan orang yang tidak punya rasa hormat, yang selalu ingin berseberangan.”

Felipe Melo beraksi di lapangan saat membela Juventus dalam pertandingan Serie A

“Dengan dia di sekitar, rasanya perkelahian bisa pecah kapan saja. Saya bahkan bilang ke direktur klub: dia adalah apel busuk.”

Ironisnya, label “apel busuk” dari Chiellini atau istilah lainnya adalah biang masalah, terasa makin masuk akal jika melihat satu fakta ini: Pada 2009, Felipe Melo justru terpilih sebagai pemenang Bidone d’Oro (Tong Sampah Emas), penghargaan satir untuk pemain terburuk Serie A musim tersebut. 

Kalau kamu pernah nonton Serie A era 2010-an, ini mungkin tidak terlalu mengejutkan. Felipe Melo memang dikenal sebagai gelandang keras, emosional, dan jujur saja sering bikin deg-degan fans sendiri. Dibeli dengan harga mahal dari Fiorentina tapi performanya justru dibawah ekspektasi dengan banyak mengumpulkan kartu kuning dan kartu merah.

BACA JUGA: Cesc Fabregas Akui Benci Dua Legenda Inggris, Ini Alasannya

Ada Penyesalan, Tapi Luka Tak Sepenuhnya Sembuh

Menariknya, Chiellini sempat mengakui pada 2020 bahwa ia terlalu jauh dalam menulis komentarnya di buku tersebut.

“Saya membuat kesalahan. Saya belajar dari itu, dan akan terus belajar dari kesalahan saya setiap hari.”

Namun urusan dengan Felipe Melo tampaknya belum benar-benar selesai. Sang pemain Brasil justru membalas, mengaitkan semuanya dengan satu insiden lama: headbutt saat melawan Siena.

Giorgio Chiellini merayakan momen bersama Felipe Melo saat membela Juventus di Serie A

“Dia punya masalah dengan saya karena saya menyundul kepalanya. Kami tidak pernah bicara lagi sejak itu. Dia tidak pernah minta maaf, tapi tidak apa-apa, yang penting dia bertanggung jawab atas ucapannya.”

Chiellini dan Felipe Melo bermain bersama 65 kali di Juventus. Jadi ini bukan konflik receh satu-dua pertandingan. Ini akumulasi dari drama bertahun-tahun.

Sepak Bola Bukan Cuma Soal Skill

Cerita Chiellini ini mengingatkan satu hal sederhana tapi sering dilupakan: sepak bola level elite bukan cuma soal teknik atau fisik, tapi soal sikap. Di ruang ganti, pemain yang paling berbakat pun bisa jadi beban kalau tidak mau berjuang untuk tim. 

Giorgio Chiellini berjabat tangan dengan Mario Balotelli saat laga Juventus melawan Brescia di Serie A

Dan mungkin buat Chiellini, bek yang hidupnya dihabiskan untuk bertahan, berkorban, dan menutup lubang tim, itu adalah dosa terbesar seorang rekan setim.

Mungkin lebih baik punya teman biasa tapi mau lari bareng, daripada bintang yang jalan sendiri.

FAKTA TERBARU:

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.