Tahukah kamu bahwa pernah ada pertandingan internasional yang cuma berlangsung tiga detik? Kedengarannya seperti lelucon, tapi kejadian ini benar-benar nyata. Pada 9 Oktober 1996, Skotlandia melakukan perjalanan ke Tallinn, Estonia, untuk Kualifikasi Piala Dunia 1998, dan pulang membawa cerita paling absurd dalam sejarah sepak bola.
Bukan karena badai, bukan pemadaman listrik, bukan juga kerusuhan suporter. Laga ini cuma berjalan tiga detik karena hanya satu tim yang hadir di lapangan.
Yup. Cuma Skotlandia. Kemana Estonia?
@olahbolacom Nasi Padang emang paling the best! 💯 Pemain Malaysia pun sampai approved 👏 Nah, tebak lauk favoritnya apa 😂 @ASEAN United FC #aseanu23championship #mandiricup2025
♬ suara asli – OlahBola.com – OlahBola.com
Awal Mula: Masalah Lampu

Sehari sebelum pertandingan, pelatih Skotlandia saat itu, Craig Brown, sudah menunjukkan gelagat tak puas. Menurut mantan gelandang Craig Burley, “Kami melakukan pitching seperti biasa. Tapi pelatih tidak terlalu senang dengan fasilitasnya: ada masalah pada lampu sorot.”
Delegasi FIFA Jean-Marie Gantenbein ikut memeriksa dan sempat menyampaikan kekhawatiran soal lampu sorot darurat yang disewa dari Finlandia. Meski begitu, ia tetap menyetujui kick-off pada jam 18:45.
Namun Skotlandia tidak tinggal diam. Mereka mengajukan keluhan ke FIFA, dan setelah diskusi berjam-jam hingga pukul 2:30 pagi, FIFA memutuskan jadwal kick-off dimajukan ke jam 15:00.
Di sinilah masalah dimulai.
Estonia: “Serius, Kick-off maju dadakan?

Bagi Estonia, keputusan FIFA ini seperti main sulap saja. Bagaimana tidak? Mereka dapat kabar sekitar pukul 11 pagi, hanya 4 jam sebelum jadwal baru.
Mantan kiper Mart Poom merasa keputusan itu tidak masuk akal: “Kami mengetahui sekitar jam 11 pagi, sangat terlambat dan itu adalah hari kerja. Mengatur ulang hal-hal seperti keamanan tidak mungkin dilakukan. Pada saat itu kami merasa diperlakukan seperti negara kecil.”
Dan benar saja, Estonia memutuskan tetap datang pukul 18:45 sesuai jadwal awal. Presiden Federasi Estonia, Aivar Pohlak, bahkan menegaskan, “Kami akan meninggalkan markas pada pukul 16:00 untuk kick-off pukul 18:45. Kami tahu Skotlandia akan pergi dan tidak akan ada pertandingan hari itu.”
Pertempuran gengsi pun dimulai.
BACA JUGA: Fakta Ironis Vanuatu Bisa Menang 46-0 di Kompetisi Resmi
Kick-Off 3 Detik
Dengan delapan ratus suporter Skotlandia sudah memadati stadion, tim Skotlandi tampil di lapangan sendirian. Tak ada Estonia di sisi seberang.
Wasit Miroslav Radoman meniup peluit, Billy Dodds menyentuh bola ke John Collins, dan priiit diberhentikan lagi. Tiga detik selesai.

Ya, pertandingan resmi berlangsung tiga detik. Dan seluruh dunia kebingungan. Skotlandia merayakan “kemenangan” itu pula.
Masalahnya? FIFA ternyata tidak menganggap laga itu sah sebagai kemenangan 3-0.
Keputusan: Tidak Menang, Tapi Diulang
Walaupun delegasi FIFA, Gantenbein menyarankan Skotlandia diberi kemenangan otomatis, keputusan final jatuh ke komite yang dipimpin presiden UEFA kala itu, Lennart Johansson.
Hasilnya? Pertandingan harus diulang di tempat netral. Lokasinya: Stade Louis II, Monaco. Tanggalnya: 11 Februari 1997. Hasilnya: 0–0, tanpa gol dan tanpa drama (untungnya).
Skotlandia akhirnya tetap lolos ke Piala Dunia 1998. Estonia? Mereka hanya mengumpulkan empat poin dari sepuluh pertandingan.
Bukan yang Pertama, Uni Soviet Juga Pernah

Kasus tim tak hadir bukan cuma terjadi di Tallinn. Pada play-off Piala Dunia 1974, Uni Soviet menolak bertanding di Estadio Nacional, Chile, karena lokasi itu sebelumnya digunakan untuk eksekusi brutal di era pemimpin Augusto Pinochet.
FIFA menolak memindahkan pertandingan, Uni Soviet memboikot, dan Chile otomatis lolos, meski kemudian tersingkir di fase grup Piala Dunia. Sama seperti Skotlandia di Piala Dunia 1998.
FAKTA TERBARU:




