Ronaldo Nazario bukan sekadar nama besar. Ia adalah trauma dan mimpi buruk bek-bek Serie A di akhir 1990-an. Namun siapa sangka, salah satu keputusan paling emosional dalam karirnya justru lahir dari rasa menunggu, lalu ditinggalkan.
Mantan striker ikonik Brasil itu hengkang dari Barcelona pada 1997 untuk menyelesaikan transfer rekor dunia saat itu ke Inter Milan senilai 19,5 juta poundsterling. Harapannya besar, begitu pula ekspektasi publik Italia.
Meski karirnya di Inter kerap diganggu cedera parah, Ronaldo tetap mencatatkan 57 kontribusi gol dari 68 penampilan di Serie A, angka yang masih oke untuk pemain yang lebih sering masuk ruang perawatan daripada beraksi di lapangan.
@olahbolacom Ronaldo + Inter = Golden Era Serie A 🇮🇹 😍 Top 3 pemain favorit kamu di Serie A siapa aja sob? 👀 #inter #intermilan #seriea #ronaldo
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Dari Inter ke Madrid, Lalu Kembali ke Italia
Ronaldo akhirnya meninggalkan Inter pada 2002 dan pindah ke Real Madrid dengan nilai fantastis 46 juta euro, menjadi bagian dari era Galacticos milik Florentino Perez. Ia kembali bersinar, kembali ditakuti, dan kembali menjadi Ronaldo yang dunia kenal.
Namun takdir membawanya pulang ke Italia pada 2007 dengan seragam yang membuat sebagian fans Inter cemberut: AC Milan.
Ya, rival abadi. Klub yang secara budaya, sejarah, dan emosi adalah “musuh rumah sendiri”.
Menunggu Jawaban Inter yang Tak Pernah Datang

Sebagai juara Piala Dunia dua kali dan peraih Piala UEFA bersama Inter, Ronaldo mengaku ingin kembali ke klub tersebut untuk kali kedua dalam karirnya. Namun, harapan itu perlahan berubah jadi kekecewaan.
“Saya ingin kembali ke Inter saat itu. Saya melakukan semua yang saya bisa untuk kembali ke Inter,” kata Ronaldo kepada Sportweek.
“Saya menunggu selama saya bisa memberi Inter waktu untuk mengatakan ya atau tidak. Ketika tidak ada jawaban yang datang, itu berarti tidak.”
Di sepak bola Italia, diam sering kali lebih menyakitkan daripada penolakan terang-terangan. Dan bagi Ronaldo, tidak adanya jawaban dari Inter terasa seperti pintu yang ditutup perlahan, tapi pasti.
BACA JUGA: Komentar Nakal Ronaldo Soal Istri Figo Bikin Heboh Real Madrid!
“Saya Merasa Seperti Pengkhianat”
Ronaldo tak menutup-nutupi perasaannya. Ia sadar betul keputusan itu akan melukai sebagian orang, termasuk dirinya sendiri.
“Di AC Milan, ya saya merasa seperti pengkhianat. Tapi saya juga merasa sedikit dikhianati karena ditolak oleh Inter,” ujar Ronaldo.

Ia menyebut keputusannya sebagai pilihan yang “kurang baik”, namun tetap ia ambil tanpa penyesalan.
“Dalam hidup, saya tidak pernah takut membuat pilihan. Jika saya melakukannya, itu karena saya merasa memang itu yang harus dilakukan.”
Kalau boleh jujur, ini terasa seperti kisah mantan yang ditinggal tanpa kejelasan, lalu memilih orang yang mau menerima apa adanya.
Kenangan Manis di Milan

Meski tidak lebih dari dua musim membela Rossoneri, Ronaldo menyimpan kenangan hangat terutama dengan sosok Adriano Galliani dan Silvio Berlusconi.
“Berlusconi dan terutama Adriano Galliani sangat mencintaiku. Hubungan saya dengan mereka adalah kenangan yang masih membuat saya tersenyum hari ini.”
Kemudian Ronaldo meninggalkan AC Milan pada Juli 2008 untuk melanjutkan karirnya ke Corinthians sebelum resmi gantung sepatu pada 2011.
Ia dikenang sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, bukan hanya karena gol dan trofi, tapi juga karena keputusan-keputusan sulit yang ia ambil sebagai manusia.
FAKTA TERBARU:




