Ada sensasi aneh saat melihat pelatih top dunia dan mencoba mengingat: “Dia dulu pemain, kan?”
Tentu saja, kita keluarkan dulu nama-nama seperti Zinedine Zidane dan Johan Cruyff, para legenda yang bahkan sebelum melatih sudah kebanjiran trofi. Begitu juga Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti, yang CV bermainnya tak kalah mengkilap dari karir kepelatihan mereka.
Tapi bagaimana dengan pelatih Manchester United, Ruben Amorim?

Sebelum dikenal sebagai pelatih obsesif dengan sistem 3-4-2-1 dan digadang-gadang cocok memperbaiki performa Manchester United, Amorim pernah mengalami satu momen yang… katakanlah, mengubah hidup.
Neymar, 21 Tahun, dan Mood Pamer
Tahun 2013. Neymar baru saja membawa Brasil menjuarai Confederations Cup, turnamen yang kini mungkin hanya diingat oleh para milenial garis keras. Ia adalah wajah Piala Dunia 2014, tuan rumah, penuh ekspektasi, penuh senyum, dan penuh trik.

Dalam laga persahabatan melawan Portugal yang berakhir 3-1 untuk Brasil, Neymar benar-benar berada di mode pamer. Portugal memang sempat unggul lebih dulu lewat gol Raul Meireles di menit 18. Tapi 5 menit kemudian umpan sudutnya disundul Thiago Silva menjadi gol penyama kedudukan.
Gol kedua Brasil tercipta 10 menit kemudian. Neymar dribel melewati beberapa pemain Portugal, seolah sedang latihan ringan di halaman rumah. Di titik ini, Neymar bermain bukan untuk menang. Ia bermain untuk bersenang-senang.
Dan di sinilah Ruben Amorim masuk cerita.
BACA JUGA: Akhirnya Terungkap! Alasan Transfer Neymar ke Chelsea Batal
Momen Neymar Permalukan Amorim
Neymar kembali menyisir sisi lapangan. Pertahanan Portugal hanya bisa menonton. Satu stepover, Amorim terpental. Penonton di Gillette Stadium Amerika Serikat bersorak.
Neymar lanjut. Drag back. Drag back lagi. Cruyff turn dengan Amorim yang mengawalnya. Jelas emosinya Amorim mendidih.
Dan seperti punchline sempurna dalam debat panas, Amorim menghentikan semua itu dengan cara klasik: studs ke tulang kering Neymar. Tidak elegan, tapi efektif. Setidaknya untuk harga diri.
Ada rumor, walaupun belum terbukti, bahwa aksi Neymar ini adalah cikal bakal obsesinya terhadap formasi dengan perlindungan ekstra di lini belakang.
Akhir yang Datang Perlahan
Secara resmi, penampilan terakhir Ruben Amorim bersama Portugal terjadi di Piala Dunia 2014, bermain penuh 90 menit melawan Ghana. Karier klubnya berlanjut tiga tahun lagi, sebelum ia pensiun di usia 32 akibat robek total ligamen lutut kanan.

Namun secara emosional? Sepatunya sudah digantung sejak Neymar menanggalkan harga dirinya di sisi lapangan.
Ironisnya, kemampuan menahan rasa malu di depan publik itu justru menjadi bekal penting karena ia akan menghadapi tekanan tanpa ampun di Old Trafford setiap pekannya dari manajemen, pemain hingga media.
FAKTA TERBARU:




