Lebih Sadis dari Gueye Tampar Keane: Mengapa Dyer dan Bowyer Ribut?

Keributan antar rekan setim kembali terjadi di Premier League. Gelandang Everton, Idrissa Gueye menjadi pemain pertama dalam 17 tahun terakhir yang diusir karena memukul rekan setimnya sendiri, Michael Keane, saat bertandang ke Old Trafford paka pekan ke-12 musim 2025/26.

Insiden itu terjadi pada menit ke-13. Pertandingan masih 0-0, ketegangan mulai naik, lalu… plak! Gueye menampar Keane setelah keduanya saling dorong. Jordan Pickford buru-buru melerai, wasit Tony Harrington langsung mengacungkan kartu merah. Everton terpaksa bermain dengan 10 orang selama 85 menit.

Anehnya? Everton justru menang 1-0, memberikan David Moyes kemenangan pertamanya di Old Trafford sebagai manajer tim tamu dalam 18 percobaan. Pelatih David Moyes pun menanggapi dengan gaya hardcore-nya: “Kalau mau tim pemenang, saya ingin pemain yang tangguh. Saya suka kalau pemain saya bertengkar.”

Insiden ini otomatis membuat pecinta Premier League teringat pada perkelahian sesama pemain paling terkenal dalam sejarah liga Inggris. Dan itu membawa kita kembali ke Newcastle, tahun 2005.

@olahbolacom

Blind ranking premier league player in their prime time with @Chatmo gimana guys? Sudah sesuaikah ranking yang kita buat? #fyp #sepakbola #football #blindranking

♬ Funny video “Carmen Prelude” Arranging weakness(836530) – yo suzuki(akisai)

Dyer – Bowyer: Duel Rekan Setim Paling Ikonik Premier League

Pada tahun 2005, laga Newcastle United vs Aston Villa menghasilkan salah satu adegan paling absurd dalam sejarah sepak bola Inggris: Kieron Dyer dan Lee Bowyer saling pukul meski memakai jersey yang sama.

Kalau ada “Hall of Fame keributan sesama pemain”, momen ini pasti masuk.

Newcastle yang sedang frustasi tiba-tiba kehilangan dua pemain sekaligus karena mereka bertengkar satu sama lain.

Bagaimana Keributan itu Dimulai?

Selama bertahun-tahun, penyebab pastinya hanya berupa rumor. Baru pada 2018, Dyer membeberkan detailnya lewat Daily Mail saat merilis otobiografinya.

Dyer bercerita: “Bowyer datang meminta bola. Saya pikir lebih baik mengoper ke rekan lain. Dia menggila dengan bilang ‘Berikan bolanya ke saya!’ katanya.”

Mereka beradu mulut, lalu Bowyer memanas: “Kamu tidak pernah mengoper bola kepadaku!”

“Alasan saya tidak mengoper bola kepadamu adalah karena kamu brengsek,” balas Dyer.

Ucapan itu menyulut Bowyer. “Kemudian dia memukul saya empat kali. Pukulannya tidak sakit, tapi setelah pukulan keempat, saya terpikir untuk membalas.”

Gareth Barry yang merupakan pemain Aston Villa sampai harus menarik Bowyer menjauh. Jersey Bowyer sobek, wajahnya penuh amarah, siap menyerang lagi. Sementara Dyer justru sudah lebih tenang, walau tetap tidak menyangka ia bisa dikeluarkan karena memukul rekan sendiri.

Hasilnya: dua kartu merah, menyusul Steven Taylor yang sudah diusir lebih dulu. Newcastle menyelesaikan laga dengan delapan pemain dan kalah 3-0 dari Aston Villa.

BACA JUGA: Bukan Hanya Yamal vs Carvajal, Ini 7 Rekan Timnas yang Ribut

Di Ruang Ganti, Lebih Panas Lagi

Di terowongan menuju ruang ganti, keduanya masih saling memaki hingga dipisahkan staf klub. Manajer Newcastle saat itu, Graeme Souness yang memang terkenal galak bahkan berkata: “Kalau kalian merasa tangguh, ayo berkelahi sekalian.”

Mereka menolak.

Setelah pertandingan, konferensi pers darurat digelar. Bowyer dan Dyer duduk berdampingan, dengan wajah penuh penyesalan.

Bowyer berkata: “Saya ingin meminta maaf kepada fans, staf, pemain, klub, keluarga saya, dan semua orang yang menyaksikan apa yang terjadi.”

Dyer menambahkan hal serupa.

Souness pun menyalahkan Bowyer: “Dia bersalah. Dia memukul lebih dari sekali. Saya sudah melihat videonya.”

Bowyer dihukum larangan bermain empat pertandingan, Dyer tiga pertandingan.

Hubungan Dyer dan Bowyer Sekarang? 

Setelah insiden itu, Bowyer bertahan setahun di Newcastle sebelum pindah ke West Ham. Dyer bertahan satu musim lebih lama sebelum bertemu lagi dengan Bowyer di West Ham.

Lucu ya? Seperti ditakdirkan.

Pada 2014, Dyer berkata: “Hubungan kami sudah membaik, tapi saya masih ingin menghajarnya.”

Kalimat bercanda, tapi menunjukkan betapa ikoniknya momen tersebut.

Pada akhirnya, baik Newcastle 2005 maupun Everton 2025 menunjukkan satu hal: Dalam sepak bola, emosi bisa mengalahkan logika, dan terkadang menghasilkan cerita yang tak akan pernah dilupakan.

FAKTA TERBARU:

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.