Di antara kilauan nama besar seperti Erling Haaland, Jude Bellingham, hingga Lamine Yamal, ada sisi gelap dari penghargaan Golden Boy. Karena sejatinya, jadi yang terbaik di usia muda bukan jaminan sukses jangka panjang.
Buktinya? Ada Mario Balotelli yang lebih sering viral karena aksi di luar lapangan, Joao Felix yang sekarang main di liga minyak, sampai Anthony Martial yang ‘nyasar’ ke Yunani. Mereka pernah jadi simbol harapan, tapi kini justru lebih sering bikin orang geleng-geleng kepala.
Di bawah ini kami kupas 4 nama pemenang Golden Boy yang kariernya malah meluncur ke bawah:
1. Mario Balotelli – Si Raja Drama

Kalau ada penghargaan Golden Boy versi sinetron, mungkin Balotelli sudah sapu bersih. Pemenang Golden Boy tahun 2010 ini sempat bikin kita semua kagum lewat gol ikonik di Euro 2012, atau saat assist-nya bikin Aguero jadi legenda Premier League.
Tapi… semua itu cuma sekilas. Sisanya? Pindah-pindah klub, ribut di luar lapangan, dan performa yang makin menurun. Terakhir membela Genoa tapi cuma main 6 kali dan… ya, nihil gol.
Kini, umur 34 tahun, Balotelli sedang cari klub lagi. Mungkin balik ke Turki? Atau main di BRI Super League?
2. Anthony Martial – Alumni Lockdown FC

Siapa sangka? Pemilik gol debut fantastis melawan Liverpool ini sekarang main di AEK Athens. Iya, klub Yunani. Padahal usianya masih 29 tahun yang terbilang usia emas bagi pesepakbola.
Setelah sembilan tahun bareng Manchester United dan total 90 gol, Martial malah makin jarang kelihatan. Performanya seperti sinyal Wi-Fi di puncak gunung, kadang ada, tapi seringnya hilang.
Momen terbaik dari peraih Golden Boy 2015 ini? Mungkin saat era lockdown. Sisanya, Martial jadi contoh nyata bahwa potensi besar butuh konsistensi, bukan cuma viral satu-dua pertandingan.
3. Renato Sanches – Anak Hilang dari PSG

Renato Sanches itu ibarat pemain FIFA Career Mode yang rating-nya stuck. Menang Golden Boy tahun 2016, sempat bersinar di Euro 2016 juga, tapi namanya ga bisa lebih tinggi lagi walaupun sempat membela AS Roma dan Bayern Munchen.
Saat ini ia balik ke PSG, tapi musim lalu cuma dua kali starter. Bakatnya nyata, tapi entah kenapa selalu sulit menemukan tempat yang cocok. Mungkin di usia 27 tahun ini, ia butuh klub seperti Brighton, bukan tim bertabur bintang yang bikin Renato Sanches tenggelam.
BACA JUGA: Mengapa Chelsea dan Palmer Butuh Xavi Simons?
4. Joao Felix – Bintang Tanpa Arah

Joao Felix adalah plot twist paling aneh di dunia sepak bola modern. Dibeli mahal Atletico Madrid dari Benfica pada 2019 dengan status Golden Boy di tahun yang sama, sempat digadang-gadang jadi “The Next Kaka”, tapi sekarang main di Al-Nassr. Bareng Cristiano Ronaldo, sih. Tapi umur dia baru 25 tahun!
Selain membela Atletico, Felix juga pernah membela Chelsea, Barcelona, hingga AC Milan. Tapi dari semua klub itu, fans-nya sama-sama bertanya: “Sebenernya dia jago di mana sih?” Felix memang stylish dan punya teknik hebat, tapi entah kenapa selalu gagal bikin dampak nyata.
Opini OlahBola: Talenta Saja Tidak Cukup!
Kisah empat pemain ini jadi pengingat keras bahwa jadi wonderkid itu baru awal. Konsistensi, mentalitas, pilihan klub, dan sedikit keberuntungan adalah kombinasi yang menentukan apakah pemain muda bisa jadi legenda atau sekadar trivia di akun sepakbola.
Bagi fans, ini pelajaran buat nggak gampang berharap tinggi pada pemain muda yang baru viral. Bagi pemain? Well, semoga kamu baca artikel ini sebelum kariermu malah jadi bahan meme.
“Di sepak bola, waktu muda kamu boleh bersinar. Tapi yang bikin kamu abadi adalah saat kamu tetap bersinar di usia senja.”
FAKTA TERBARU: Ronalo atau Messi, Pemain Idola Son Heung-min?