Kalau bicara rivalitas Arsenal dan Tottenham, kita tahu ini bukan cuma soal derby panas di London Utara. Transfer pemain pun bisa jadi ajang saling tikung. Terbaru, Arsenal berhasil membajak Eberechi Eze yang tadinya tinggal selangkah lagi jadi milik Spurs.
Seakan dejavu, kisah Eze ini mengingatkan kita pada deretan pemain yang juga sempat dilirik Spurs, tapi akhirnya lebih memilih Arsenal. Ada alasan klasik karena ambisi, proyek klub, hingga sentimen pribadi para pemain ini memilih Arsenal. Tapi ada juga kisah kocak seperti Emmanuel Petit yang literally naik taksi “dibayarin Spurs”, tapi alamatnya malah ke markas Arsenal.
Eberechi Eze: Anak Hilang yang Pulang ke Rumah

Arsenal benar-benar ahli dalam manuver menit-menit terakhir. Terbaru, mereka sukses merebut Eberechi Eze dari tangan Tottenham, padahal Spurs tinggal selangkah lagi menuntaskan transfernya senilai 60 juta poundsterling.
Kesepakatan itu awalnya hampir rampung, tetapi Arsenal bergerak cepat ketika Crystal Palace menunda finalisasi. Hasilnya? Spurs mundur, Arsenal dapat pemain, dan fans Gunners bisa senyum lebar.
Eze sendiri ternyata memang fans Arsenal sejak kecil. Ia bahkan sempat merasakan akademi The Gunners sebelum akhirnya berkembang di QPR dan bersinar bersama Crystal Palace. Jadi, kepindahannya ke Emirates bisa dibilang semacam “pulang kampung” bagi sang pemain.
Selain faktor emosional, ada alasan teknis. Arsenal kehilangan Kai Havertz karena cedera lutut, membuat Arteta harus cari solusi cepat. Dengan gaya main fleksibel, Eze bisa dimainkan di lini tengah maupun sayap kiri. Statistik musim lalu pun solid: 8 gol dan 8 assist di Premier League.
Bagi fans Arsenal, ini bukan sekadar transfer biasa. Membajak target Spurs selalu punya nilai lebih. Kalau diibaratkan derby, ini seperti gol menit akhir di depan tribun lawan, sakitnya berasa banget.
William Saliba: Berani Tolak Finalis UCL Demi “Klub Terbesar”
Pada tahun 2019, William Saliba sempat jadi rebutan Arsenal dan Tottenham. Saat itu Spurs baru saja tampil di final Liga Champions, posisi mereka di puncak popularitas. Namun, Saliba tetap memilih Arsenal dengan alasan sederhana tapi penuh keyakinan.
Saliba mengungkapkan bahwa bermain untuk “klub terbesar di Inggris” menjadi alasan utamanya menolak Spurs. “Sejak kecil, saya sudah sering menonton Arsenal main di Liga Champions. Rasanya luar biasa bisa menandatangani kontrak dengan klub Inggris yang sangat besar. Bagi saya, Arsenal adalah klub terbesar di Inggris, jadi keputusan ini sangat mudah,” kata Saliba saat itu.
Ucapan ini jelas cukup berani, bahkan terdengar kontroversial, karena saat itu Arsenal justru sedang terpuruk di bawah Unai Emery. Sementara itu, Spurs dianggap lebih menjanjikan dengan skuat mapan dan tiket final Liga Champions di tangan.
Namun, waktu membuktikan pilihan Saliba tepat. Ia kini berkembang menjadi salah satu bek terbaik Premier League di bawah Mikel Arteta, sedangkan Tottenham masih sering tersendat, naik-turun di papan atas tapi jarang benar-benar mendekati gelar juara.

BACA JUGA: Idolakan 2 Legenda MU, Gyokeres Justru Gabung Arsenal
David Raya: Nyaris ke Spurs, Malah Jadi No.1 di Arsenal
Kasus Raya ini bikin fans Spurs geregetan. Brentford pasang harga keras 40 juta poundsterling, Spurs mundur. Eh, Arsenal datang, dapet deal sekitar 27 juta poundsterling.

Setelahnya? Raya langsung jadi kiper utama, bahkan bikin Aaron Ramsdale jadi cadangan tetap. Di sisi lain, Spurs malah pusing karena Guglielmo Vicario sering diganggu cedera.
Kadang memang rejeki-rejekian. Buat Arsenal, ini bukan cuma soal hemat duit, tapi juga menikmati rasa manis membajak target rival.
Riccardo Calafiori: Dari Bologna, Terbang ke Emirates
EURO 2024 bikin nama Calafiori meroket. Chelsea, Newcastle, dan Spurs semua ngantri. Tapi sang bek Italia justru memilih Arsenal.

Bagi pemain muda, memilih proyek klub jelas penting. Arsenal sekarang punya aura: anak muda, sepak bola atraktif, dan Arteta yang visioner. Bandingin sama Spurs yang masih sering jadi tim “nyaris”, nyaris top 4, nyaris juara Piala Super Eropa!
Emmanuel Petit: Kisah Taksi Paling Mahal Bagi Spurs
Kalau bicara transfer yang bikin fans Tottenham sakit hati, kisah Emmanuel Petit mungkin salah satu yang paling ikonik dan paling kocak.
Pada akhir 1990-an, Spurs sudah sangat yakin bisa mengamankan tanda tangan gelandang Prancis itu. Mereka bahkan sudah mengatur jadwal pertemuan, lalu membayar taksi untuk mengantar Petit. Namun, alih-alih ke hotel atau kembali ke bandara, Petit justru memberi alamat markas Arsenal kepada sopir taksi.
“Saya punya pertemuan di hari yang sama, pagi dengan Tottenham dan sore dengan Arsenal. Saat itu saya belum tahu rivalitas keduanya. Setelah keluar dari stadion Spurs, mereka menyiapkan taksi buat saya. Sopir bertanya mau ke mana, dan saya kasih alamat Arsenal. Saya tidak sadar kalau taksinya sudah dibayar Spurs, jadi mereka tahu saya ke sana,” ujar Petit dikutip dari talkSPORT.

Ia mengaku masih memberi janji pada Spurs untuk berpikir dulu, tapi dalam hitungan hari sudah resmi meneken kontrak bersama Arsenal. Sisanya adalah sejarah: Petit jadi legenda, memenangkan gelar Premier League, FA Cup, hingga Piala Dunia 1998 bersama Prancis.
Cerita ini sampai sekarang masih jadi bahan ejekan ke Spurs. Bayangkan, biaya taksi yang mereka bayarkan malah ikut “menyumbang” lahirnya salah satu gelandang terbaik Arsenal.
Opini OlahBola: Arsenal Ahlinya Membajak
Kalau lihat pola ini, ada satu benang merah: Arsenal selalu berhasil memberi ‘pukulan’ telak ke Spurs di bursa transfer. Entah karena faktor rivalitas, daya tarik proyek Mikel Arteta, atau memang Spurs yang sering ragu di detik akhir.
Buat fans Arsenal, ini bukan sekadar menang di atas kertas. Ada kepuasan emosional tersendiri ketika pemain idaman Spurs tiba-tiba mengenakan jersey merah-merah putih di Emirates.
Dan untuk kasus Eze? Ya, bisa jadi ini transfer yang bukan cuma soal kebutuhan karena Havertz cedera, tapi juga “bonus” untuk bikin tetangga sebelah makin gigit jari.
FAKTA TERBARU: