Batal Gabung Manchester United, Pemain Ini Menangis Bahagia

Bagi sebagian besar pesepak bola, Manchester United adalah tujuan akhir karir. Klub raksasa Inggris, sejarah panjang, stadion legendaris, dan nama besar yang membuat siapa pun tergoda untuk berkata “ya” tanpa berpikir dua kali.

Namun, tidak semua pemain merasakan hal yang sama.

Pada Deadline Day transfer musim panas 2015, seorang kiper top dunia hampir resmi menjadi bagian dari Manchester United. Tiket sudah hampir di tangan. Bandara sudah didatangi. Ponsel terus menyala menunggu kabar terakhir.

Lalu, semuanya gagal!

Dan yang terjadi setelahnya sungguh tak terduga: ia menangis bukan karena kecewa, tapi karena bahagia.

Fax yang Mengubah Segalanya

Hari itu adalah salah satu Deadline Day paling kacau dalam sejarah sepak bola Eropa. Klub-klub berlomba dengan waktu, dokumen dikirim menit-menit terakhir, dan kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

Manchester United saat itu, yang masih ditangani Louis van Gaal, sedang menyiapkan skema pertukaran kiper besar-besaran dengan ingin mendatangkan kiper Real Madrid. Sebagai gantinya, David de Gea akan hijrah ke Santiago Bernabeu.

Kesepakatan sudah tercapai, nilai transfer disetujui, dan publik mengira semuanya tinggal formalitas. Masalahnya cuma satu: dokumen telat dikirim dua menit.

Fax yang datang terlambat membuat transfer otomatis batal. Bursa transfer ditutup. Dan dua kiper kelas dunia itu tetap bertahan di klub masing-masing.

Bagi banyak pemain, kegagalan seperti ini bisa menjadi trauma. Tapi bagi satu orang ini, justru sebaliknya.

@olahbolacom

Real Madrid vs Man City dini hari nanti. Siapa yang akan lolos ke 16 besar? Prediksimu gimana, Sob? 😎🫵🏻 #realmadrid #mancity

♬ suara asli – OlahBola.com – OlahBola.com

“Saya Menangis Saat Tahu Saya Bertahan”

Belakangan terungkap, kiper tersebut ternyata tidak pernah benar-benar ingin pergi. Dalam wawancara dengan radio Spanyol Cadena COPE, ia mengungkapkan emosi yang selama ini dipendam.

“Saya menangis malam itu ketika tahu saya bertahan. Itu adalah akumulasi emosi. Saya tidak ingin pergi; Madrid adalah rumah saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan Real Madrid.”

Di titik ini, barulah publik tahu: kiper itu adalah Keylor Navas.

Ia bahkan sudah berada di bandara, menunggu instruksi terakhir. “Agen saya bilang untuk selalu siaga dengan ponsel. Kami harus ke bandara, meski saya tidak pernah benar-benar naik pesawat. Saya berpikir, jika Tuhan ingin saya pergi, pasti itu yang terbaik. Tapi ternyata tidak.”

Bukan Manchester United yang ia tolak, melainkan takdir yang menahannya di Madrid.

BACA JUGA: Ternyata Messi Pernah Main untuk Atletico Madrid! Kok Bisa?

Dari Hari Terburuk, Lahir Era Terbaik

Menariknya, Navas juga pernah menyebut Deadline Day 2015 sebagai salah satu hari terburuk dalam hidupnya.

“Itu salah satu hari terburuk dalam hidup saya. Saya tidak menangis hari itu, tapi setelah semuanya selesai, saat bersama istri saya, akhirnya emosi itu pecah.”

Dan sejarah membuktikan: kegagalan itu justru menyelamatkan kariernya.

Setelah transfer ke Manchester United batal, Keylor Navas menjadi bagian penting dari era keemasan Real Madrid dengan 3 gelar Liga Champions, 1 trofi juara La Liga dan memiliki akis heroik sebagai penjaga gawang utama di malam-malam terbesar Eropa

Sulit membayangkan semua itu terjadi jika fax malam itu tidak bermasalah.

Dari Madrid ke Dunia

Karir Navas dimulai jauh dari gemerlap Eropa, di Deportivo Saprissa, Kosta Rika. Ia lalu menapaki jalan panjang lewat Albacete dan Levante sebelum akhirnya direkrut Real Madrid pada 2014.

Setelah lima tahun di Spanyol, ia melanjutkan karier ke Paris Saint-Germain, sempat mencicipi Premier League bersama Nottingham Forest, dan kini bermain di Liga MX bersama UNAM Pumas.

Di usia 38 tahun, kiper Kosta Rika ini masih kompetitif. Bahkan pada musim 2025/26, timnya tidak terkalahkan dalam tujuh laga awal.

Kadang, Gagal Itu Bentuk Perlindungan

Kisah ini mengingatkan satu hal sederhana: tidak semua kegagalan adalah kesalahan.

Bagi Manchester United, itu mungkin hanya cerita tentang fax yang telat. Bagi Keylor Navas, itu adalah momen ketika hidup berkata, “Tetaplah di sini. Masih ada sejarah yang harus kamu tulis.”

FAKTA TERBARU:

Leave a comment

Artikel Terbaru

Temukan Artikel Lainnya

🚨 Peringatan Penting!

Website resmi OlahBola hanya di olahbola.com.

Kami tidak bertanggung jawab atas situs website atau akun media sosial di luar yang tercantum di website resmi kami.

Hati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan OlahBola.

Pastikan hanya mengakses informasi dan layanan resmi kami melalui olahbola.com untuk mendapatkan layanan konten sepak bola terpercaya.