Ketika nama Steve Kerr dan Steve Nash muncul, mayoritas fans langsung membayangkan NBA, cincin juara, dan pemain basket kelas dunia. Tapi siapa sangka, dua legenda basket ini justru menemukan tantangan emosional baru di pinggir Laut Mediterania bersama RCD Mallorca, klub sepak bola Spanyol yang hidupnya penuh drama.
Bukan sebagai pelatih, bukan juga sekadar investor pasif. Kerr dan Nash adalah pemilik klub, sehingga merasakan langsung naik-turun emosi yang biasanya hanya dialami fans garis keras. Mulai dari degradasi, promosi, hingga hampir mencicipi gelar juara Copa del Rey.
Dari NBA ke LaLiga: Keputusan “Nekat” yang Masuk Akal

Ceritanya dimulai tahun 2016, saat Andy Kohlberg (mantan petenis asal New York) mengajak Steve Nash (dua kali MVP NBA) bergabung membeli Mallorca, klub yang saat itu terpuruk di Segunda Division. Lalu pada Agustus 2023 giliran Kerr (9 kali juara NBA) yang bergabung ke daftar kepemilikan tim.
“Ketika Andy mengajak saya, keputusannya tanpa pikir panjang,” ujar Kerr dilansir dari ESPN. “Kesempatannya luar biasa, tempatnya indah, cuma satu masalah: olahraganya sepak bola,” sambung pelatih Golden State Warriors tersebut.
Alih-alih mundur, Kerr justru tertarik. Bersama Nash dan mantan pemain timnas AS yang pernah bermain di Sunderland, Stu Holden, mereka sepakat: sport is sport. Mental juara tidak mengenal cabang olahraga.

“Koneksi awalnya adalah Phoenix Suns,” kata Kohlberg. “Steve Nash, Steve Kerr, dan saya pernah berada di sana di waktu yang berbeda. Nash dan Stu Holden juga sudah lama bersahabat. Kami berpikir: atlet itu gampang saling paham.”
Sebelumnya mereka juga telah melihat klub-klub di divisi Championship Inggris namun Nash mengakui harganya “cukup mahal”. Dan Mallorca? Bagi mereka, ini “permata tersembunyi”. Pulau dengan 16 juta turis per tahun, basis fans loyal, dan memiliki potensi besar asal sabar.
Mallorca bukan satu-satunya klub Eropa yang menjadikan pariwisata sebagai kekuatan utama. Di Italia, Como 1907 juga tumbuh dengan pendekatan serupa, klub sepak bola yang berdiri di tengah destinasi wisata kelas dunia.

Deg-degan ala Pemilik Klub: Lebih Parah dari Final NBA
Januari ini menandai 10 tahun sejak mereka membeli Mallorca seharga 23,86 juta dolar AS.
Perjalanannya tidak mudah: dua kali degradasi dan tiga kali promosi, dari divisi dua ke divisi tiga, hingga kini menjalani musim kelima beruntun di LaLiga. Mereka finis di posisi 16, 9, 15, dan 10. Tahun 2024 bahkan mencapai final Copa del Rey, meski kalah dan membuat patah hati, tapi penuh kebanggaan.

Nash mengakui: “Cemas sebagai pemilik klub itu gila. Jauh lebih bikin stres dibanding saat masih menjadi pemain.”
Kerr bahkan terang-terangan bilang degradasi atau turun kasta itu bikin senam jantung. “Setiap pertandingan sangat berarti untuk memantapkan posisi. Karena di liga sepak bola Amerika, kami tidak punya tekanan seperti itu.”
Kalau buat fans Indonesia yang terbiasa hidup-mati bareng klub lokal, konsep degradasi ini jelas relatable, yang deg-degan bukan cuma suporter, pemilik klubnya ikut migrain.
Sentuhan Basket di Sepak Bola

Bisa kah Kerr melatih Mallorca? “Bisa saja,” jawab Kohlberg serius. “Tinggal butuh asisten yang paham taktik.”
Banyak prinsip basket diterapkan di sepak bola: segitiga kecil, pergerakan tanpa bola, dan komunikasi antar lini untuk membuat jebakan.
Meski kenyataannya tidak ikut mengatur taktik, Kerr dan Nash membawa nilai khas olahraga Amerika: culture & chemistry. Ada musik di latihan, keluarga boleh masuk area tim, dan pendekatan humanis ala NBA. Bukan cuma soal menang-kalah, tapi menjaga rasa senang di ruang ganti.
Dan ya, efeknya kadang terasa absurd. Kohlberg pernah bercanda: “Steve Kerr datang, kami menang 4-0. Dia ke Liverpool, mereka menang 7-0. Saya sampai nanya: apa yang kamu bilang ke pemain?”
BACA JUGA: Kenapa Pemain Real Madrid Latihan Pakai Masker Mirip Robot?
Kerr: Draft Mbappe? Kami Ambil!
Saat ditanya soal sistem draft ala NBA jika diterapkan di sepak bola Eropa, seperti kamu bayangkan Mallorca bisa memilih antara Lamine Yamal atau Kylian Mbappe, jawabannya kompak: tidak ada yang nolak.
Tapi Kerr realistis. Sistem draft juga punya sisi gelap: tim sengaja kalah demi bisa mendapat pemain top di musim berikutnya. Tapi di sepak bola tidak bisa seperti itu karena salah sedikit, langsung degradasi. Tidak ada ruang buat main-main.
Lebih dari Sekadar Bisnis
Bagi Kerr dan Nash, Mallorca bukan proyek secepat membalikkan telapak tangan. Ini bagian hidup mereka.
“Kami tidak datang untuk sok jago,” kata Nash. “Kami datang untuk belajar, mendengar, dan menghormati budaya klub dan pulau ini.”

Nash tumbuh besar di keluarga sepak bola. Ayahnya berasal dari Tottenham, saudaranya bermain 35 kali untuk timnas Kanada. Ia sering bermain sepak bola serius sampai usia 12–13 tahun.
Holden bahkan yakin Nash bisa jadi pemain profesional. “Dia merasa dirinya nomor 10, tapi menurutku dia nomor 6. Pirlo versi ringan,” katanya sambil tersenyum.
Kerr sendiri jatuh cinta pada sepak bola Eropa belakangan. Ia penggemar Liverpool karena Mohamed Salah dan Virgil van Dijk pernah bertemu di tempat latihan pada 2022, dan makan siang bersama Jurgen Klopp.

Sepuluh tahun berlalu, mereka masih di Mallorca. Masih deg-degan tiap akhir pekan. Masih peduli dengan masa depan klub. Ternyata legenda NBA, dengan semua gelarnya, tetap bisa merasa cemas saat bola bergulir di stadion Son Moix.
FAKTA TERBARU:




