Nama Cesc Fabregas identik dengan elegansi, visi bermain, dan operannya yang memanjakan striker. Tapi jangan salah, di balik gaya mainnya yang kalem, Fabregas menyimpan sisi emosional yang panas, terutama saat berhadapan dengan dua ikon Inggris: John Terry dan Frank Lampard.
Bahkan, Fabregas secara terbuka mengakui bahwa ia tidak menyukai keduanya dalam periode tertentu karirnya. Bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Sepak bola level elite memang bukan cuma soal teknik, namun ego dan rivalitas juga ikut bermain.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi antara Fabregas dengan pemain-pemain tersebut?
@olahbolacom Good game Vietnam 👏 Walau belum bisa mengalahkan Timnas Futsal Indonesia di perempat final Piala Asia, kami hargai kerja keras kalian biar selalu ingat dengan Indonesia 🇮🇩 Next match lawan Jepang di semi final, optimis menang sob? #afcfutsalasiancup2026 #timnasfutsal
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Fabregas vs John Terry: Benci Tapi Tetap Hormat

Saat masih berseragam Arsenal, Fabregas sering “berperang” dengan Chelsea yang dipimpin John Terry. Duel-duel keras, adu mental, hingga provokasi kecil jadi menu wajib setiap Derby London.
Dalam wawancara bersama Sky Sports (2017), Fabregas mengakui: “Dia tipe pemain yang sering sekali bertarung dengan saya. Jujur saja, saya sangat tidak menyukainya saat masih di Arsenal. Kami sering berkonfrontasi. Tapi satu hal: saya selalu menghormatinya.”
Menariknya, rasa benci itu luruh saat Fabregas justru bergabung dengan Chelsea. Di ruang ganti yang sama, Terry berubah dari musuh jadi pemimpin.
Fabregas bahkan menyebut Terry sebagai sosok pria hebat dan kapten luar biasa. “Ia membuktikan bahwa ia akan selalu menjadi kapten yang luar biasa bagi Chelsea, dan saya harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadanya.”

Rivalitas yang Terasa Personal
Buat fans Premier League era 2000-an, Arsenal vs Chelsea itu bukan sekadar pertandingan. Itu perang identitas. Fabregas vs Terry adalah simbolnya.
Sebagai fans netral pun, kita bisa paham: kalau tiap minggu dilanggar, disikut, atau diprovokasi orang yang sama, mana mungkin langsung akur?
BACA JUGA: Selain Cristiano Ronaldo di Al Nassr, 8 Pemain Top yang Pernah Mogok Main
Konflik 11 Tahun Fabregas dan Frank Lampard
Kalau dengan Terry masih bisa dibilang “profesional”, beda cerita Fabregas dengan Frank Lampard yang memiliki masalah jauh lebih personal.
Semua bermula di final Carling Cup 2007. Arsenal kalah 2-1, emosi memuncak, kartu merah bertebaran. Fabregas dan Lampard terlibat adu mulut yang harus dilerai rekan setim.

Dalam wawancara dengan The Telegraph (2020), Fabregas mengaku tanpa basa-basi: “Itu benar, kami memang berselisih. Kami tidak perlu menutupinya. Kami sering bertarung selama bertahun-tahun dan di lapangan, kami saling tidak menyukai.”
“Momen di final Piala Liga itu benar-benar gila. Kami tertinggal 2-1 dan itu sudah di momen-momen terakhir pertandingan, jadi rasa frustrasi pasti muncul. (John Obi) Mikel dan Kolo Toure terlibat tekel dan keduanya diusir keluar lapangan. Saya dan Frank juga sempat terlibat insiden di situ,” jelasnya.
Efek Domino: Lampard Pergi, Fabregas Datang
Hubungan dingin ini bahkan disebut-sebut berdampak pada keputusan Chelsea melepas Lampard pada 2014. Fabregas datang dari Barcelona, sementara sang legenda Inggris harus angkat kaki.

Lampard pernah berkata: “Kami tidak pernah bermain bersama. Mereka melepas saya untuk mendatangkan Cesc. Klub merasa kami tidak bisa berbagi ruang ganti.”
Coba bayangkan kerja satu kantor dengan orang yang selama bertahun-tahun “adu bacot” sama kamu tiap pekan. Skill kerja boleh kelas dunia, tapi chemistry? Belum tentu ada.
Momen Perdamaian di Rusia
Yang bikin konflik ini unik: berlangsung 11 tahun. Seperti dilansir dari The Telegraph, baru benar-benar berdamai setelah Lampard pensiun, dan itu pun terjadi di sebuah gym di Rusia. Plot twist yang bahkan penulis film pun mungkin nggak kepikiran.
Lampard dan Fabregas bertemu saat keduanya bekerja sebagai pundit untuk BBC di acara liputan Piala Dunia 2018, dan kemudian pergi ke gym bersama untuk berlatih. Setelah sesi gym, mereka makan siang bareng dan berbincang dengan santai.

Menurut Fabregas, pertemuan itu jadi momen penting untuk menyadari bahwa waktu telah mengubah perspektif mereka tentang satu sama lain. Di luar lapangan, mereka punya rasa hormat baru satu sama lain, terutama karena keduanya berada di dunia yang sama dan bisa bicara dewasa sebagai profesional.
Fabregas bahkan mengatakan bahwa ia menghormati Lampard “untuk apa yang ia lakukan untuk Chelsea dan sepak bola secara umum”, dan menyebutnya sebagai pemain yang fantastis serta lawan yang luar biasa.
FAKTA TERBARU:




