Jose Mourinho dan Pep Guardiola adalah dua manajer paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola modern. Trofi, filosofi, dan gaya kepemimpinan mereka membentuk masing-masing satu klub dengan generasi terhebat.
Namun yang jarang disadari banyak orang, sebelum saling menjatuhkan di pinggir lapangan, mereka pernah berdiri di sisi yang sama. Bahkan, cukup dekat.
Pertanyaannya sederhana: kapan semuanya berubah dari sahabat jadi rival?
@olahbolacom Lengkap nih sob, nama pelatih sepakbola dari A-Z coba kalian bisa juga gak sebutin selain yang yang udah di sebutkan di video? 😊 #fyp #sepakbola #football #tebaktebakan #pelatihsepakbola
♬ suara asli – OlahBola.com – OlahBola.com
Awal Perkenalan: Barcelona, Ruang Taktik, dan Obrolan Kecil
Akhir 1990-an, Barcelona berada di bawah asuhan Sir Bobby Robson. Di sanalah dua karakter besar ini pertama kali bertemu.
- Jose Mourinho: asisten manajer sekaligus penerjemah Robson (1996–2000)
- Pep Guardiola: gelandang cerdas, pemimpin di lapangan
Di sela latihan, mereka sering mengobrol. Mourinho gemar berbagi ide, Guardiola mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu.

Robson biasanya menjelaskan konsep taktik di papan. Setelah itu, Mourinho dan Guardiola yang “menghidupkan” ide tersebut di lapangan dan di ruang ganti. Beberapa pemain bahkan memuji kolaborasi taktis keduanya.
Di titik ini, tidak ada ego. Tidak ada rivalitas. Hanya dua otak sepak bola yang saling mengisi.
Menang Bersama: Pelukan yang Kini Jadi Sejarah
Mei 1997, Barcelona menjuarai Piala Winners Eropa usai mengalahkan PSG. Di lapangan, kamera menangkap dua pria berpelukan: Guardiola dan Mourinho.

Mourinho menyimpan foto itu. “Ya, saya masih punya foto pelukan itu. Kami sangat dekat,” ujar Mourinho kepada Cadena Ser.
Foto itu tak pernah dipajang di kantornya. Tapi juga tak pernah dibuang.
Dan seperti banyak kisah pertemanan, jarak mulai tercipta bukan karena pertengkaran, melainkan keputusan besar yang tak melibatkan perasaan.
BACA JUGA: Mourinho atau Simeone? 5 Manajer Dengan Kartu Merah Terbanyak
2008: Mimpi Mourinho yang Tak Pernah Terwujud
Tahun 2008, Barcelona mencari pelatih baru pengganti Frank Rijkaard. Nama Mourinho menguat.
Masuk akal karena ia sukses besar bersama Porto dan Chelsea, lalu punya sejarah di Barcelona dan bahkan Guardiola sendiri merekomendasikan Mourinho ke manajemen klub.
Mourinho sangat menginginkan pekerjaan itu. “Mulai hari ini dan selamanya, Barca ada di hati saya,” katanya saat meninggalkan klub pada 2000.
Namun di balik layar, keputusan berbelok.
Menurut Ferran Soriano dalam buku The Ball Don’t Go In By Chance, pilihan akhir ditentukan oleh Johan Cruyff. Meski tak punya jabatan resmi, suaranya sangat berpengaruh.
Cruyff memilih Guardiola yang minim pengalaman, tapi sukses bersama Barcelona B.
Mourinho? Gagal. Dan luka itu menjadi nyata.
Rivalitas Dimulai: Dua Filosofi, Satu Liga
Takdir punya selera humor yang kejam.
Barcelona mendominasi. Permainan indah, penguasaan bola, trofi beruntun. Florentino Perez muak lalu merekrut Mourinho, satu-satunya pelatih yang baru saja menyingkirkan Barcelona di Liga Champions bersama Inter Milan.

Pesannya jelas: “Hancurkan dominasi mereka.”
Tahun 2010, keduanya memimpin dua klub terbesar di Spanyol, Pep Guardiola di Barcelona dan Jose Mourinho menangani Real Madrid.
El Clasico Pertama: Dari Trauma hingga Dendam

Mourinho menyimpan sebuah karton seukuran tubuhnya di kantor Real Madrid. Berupa gambar dirinya berlari di Nou Camp, merayakan kemenangan Inter atas Barcelona.
Itu pengingat: “Mereka bisa dikalahkan.”

Namun pertemuan pertama di LaLiga berakhir brutal. Barcelona 5-0 Real Madrid.
Mourinho menyebutnya sebagai kekalahan terburuk dalam kariernya. Dan sejak hari itu, El Clasico tak pernah sama lagi.
16 Bulan, 10 Pertemuan, dan Atmosfer Beracun
Dalam 16 bulan, mereka bertemu 10 kali. Bahkan ada empat laga hanya dalam 18 hari.
Bukan cuma taktik yang bertabrakan, emosi pun ikut meledak. Guardiola menilai Madrid terlalu brutal, sebaliknya Mourinho melarang pemainnya berbaur dengan pemain Barca di timnas.

Sepak bola berubah jadi perang psikologis.
“Saya tidak tahu apakah karena sponsor UNICEF atau karena mereka orang baik. Mereka punya kekuatan, kami tidak,” kata Mourinho.
Siapa Pemenangnya? Jawabannya Tidak Sederhana
Secara statistik: Guardiola unggul dengan 5 kali menang, 2 kalah dan 4 imbang.
Namun Guardiola sendiri mengakui: “Melawan Mourinho, terlalu banyak hal terjadi. Sangat melelahkan.”
Dua musim itu menguras energi mentalnya. Setelah meninggalkan Barcelona, Guardiola bahkan cuti setahun penuh sebelum menerima tawaran Bayern Munich pada 2013.
Mourinho dan Guardiola adalah bukti bahwa dalam sepak bola, hubungan personal bisa berubah jadi rivalitas abadi, bukan karena benci tapi karena ambisi.
FAKTA TERBARU:




