Tak semua kisah sepak bola berakhir dengan sorak sorai, kontrak jutaan euro, atau perpisahan megah di stadion penuh lampu. Sebagian justru berakhir di tempat yang jauh lebih sunyi. Cendrim Kameraj adalah salah satunya.
Tujuh tahun lalu, ia masih mengenakan training kit Juventus. Hari-harinya dihabiskan di lapangan latihan yang sama dengan Cristiano Ronaldo, Paulo Dybala, hingga Gonzalo Higuain. Kini, di usia 26 tahun, Kameraj justru terlihat mengenakan helm proyek di lokasi konstruksi.
Sebuah unggahan TikTok dengan caption singkat “Life changes sometimes” cukup untuk membuat kisahnya viral.
@olahbolacom Ronaldo + Inter = Golden Era Serie A 🇮🇹 😍 Top 3 pemain favorit kamu di Serie A siapa aja sob? 👀 #inter #intermilan #seriea #ronaldo
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Pernah Satu Ruang Ganti dengan Cristiano Ronaldo
Lahir di Swiss pada 13 Maret 1999, Cendrim Kameraj adalah bek kanan yang sempat disebut sebagai salah satu prospek menjanjikan. Ia menimba ilmu di akademi Juventus sejak 2017 hingga 2019 dan sempat tampil untuk tim Juventus U23 di Serie C.
Di level internasional, Kameraj pernah membela Swiss hingga U-19 sebelum akhirnya memilih membela Kosovo pada 2019, sesuai latar belakang keluarganya.

Yang membuat kisahnya terasa begitu kontras: ia pernah rutin berlatih bersama tim utama Juventus di era Cristiano Ronaldo.
“Itu terasa tidak nyata. Sesuatu yang sangat spesial. Yang paling membuat saya terkesan adalah mentalitasnya, dia tidak pernah berhenti dan selalu menuntut lebih banyak dari dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya,” ujar Kameraj kepada jurnalis Italia, Gianluca Di Marzio.
Bahkan satu kalimat Ronaldo masih ia ingat sampai hari ini: “Talenta tidak berarti apa-apa tanpa konsistensi dan kerja keras.”
Kalimat sederhana, tapi bagi Kameraj, itu adalah pelajaran hidup.
Cedera ACL yang Menghancurkan Segalanya
Sayangnya, sepak bola tidak selalu adil. Karier Kameraj perlahan runtuh bukan karena kurang bakat, melainkan karena tubuh yang tak lagi bersahabat. Ia mengalami tiga kali cedera anterior cruciate ligament (ACL), mimpi buruk bagi pesepak bola profesional.
Cedera demi cedera membuatnya tertinggal dari rekan seangkatannya. Ia gagal menembus tim utama Juventus, tak sempat debut senior di Lugano, dan bahkan sempat menghilang dari dunia sepak bola sebelum mencoba bangkit bersama klub Swiss, Kriens.

Harapan terakhirnya datang saat membela KF Dukagjini di Kosovo. Namun dalam tiga musim, ia hanya mampu mencatat 17 penampilan liga.
Pada usia 25 tahun, Kameraj akhirnya menyerah. “Itu keputusan yang sangat menyakitkan. Sepak bola adalah identitas saya sejak kecil. Untuk waktu yang lama, saya tidak tahu siapa diri saya tanpa sepak bola,” katanya.
BACA JUGA: Dulu Mirip Cristiano Ronaldo, Kini Deulofeu Nasibnya Miris
Dari Sepatu Bola ke Helm Proyek
Setelah gantung sepatu, Kameraj kini bekerja sebagai konsultan di perusahaan konstruksi ICM Bau AG. Meski berbasis di kantor, ia sesekali harus turun langsung ke lapangan proyek.
Justru dari sanalah foto viral itu berasal. “Bos kami ingin semua staf merasakan langsung bagaimana beratnya bekerja di lokasi konstruksi,” jelasnya.

“Itu membuat kami lebih menghargai betapa beruntungnya bisa bekerja di balik meja.”
Mengharukan? Jelas. Dulu, hidupnya diatur oleh jadwal latihan dan pertandingan. Sekarang, oleh jam kerja dan helm keselamatan.
‘Tanpa Cedera, Saya Bisa Sampai Puncak’
Apakah Kameraj menyesal? Ia menjawabnya dengan kedewasaan yang jarang dimiliki di usia 20-an.
“Mungkin saya bisa lebih sabar atau lebih mendengarkan tubuh saya. Tapi saya tidak menyalahkan diri sendiri. Penyesalan tidak mengubah masa lalu.”
Ia juga tak ragu berkata jujur: “Tanpa cedera, saya yakin saya bisa mencapai level tertinggi.”
Namun ia memilih tidak hidup dalam “andai-andai”. Dan ini bagian yang membuat kisahnya terasa sangat manusia: “Saya sudah memberi segalanya. Dan itu yang terpenting.”
Masih Bermimpi Kembali ke Sepak Bola
Meski kini jauh dari lapangan hijau, Kameraj belum sepenuhnya menutup pintu. Ia ingin membantu pemain muda agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Saya masih bermimpi. Mungkin suatu hari kembali ke sepak bola dalam peran lain.”

Namun jika itu tak terjadi?
“Di luar sepak bola pun, saya hanya ingin membangun hidup yang baik, bahagia, dan tetap menjadi diri sendiri.”
Kadang, kisah sepak bola paling kuat bukan tentang trofi, melainkan tentang bagaimana seseorang berdamai saat mimpinya harus berhenti lebih cepat.
Dan Cendrim Kameraj, tanpa sadar, sudah mencetak gol terpentingnya: menerima hidup apa adanya, dan terus melangkah.
FAKTA TERBARU:




