Sadio Mane akhirnya buka suara soal momen ketika dirinya hampir bergabung ke Manchester United. Ya, hampir gabung, karena menurut pengakuannya, peluang itu benar-benar terbuka lebar. Bahkan bisa dibilang nyaris 100% terjadi, andai saja tidak ada beberapa pemain tertentu di skuad Setan Merah yang kala itu di arsiteki oleh Louis van Gaal.
Menariknya, Mane mengaku ia sudah berbicara langsung dengan van Gaal, namun justru dari sesi ngobrol itu, keyakinannya mulai goyah. Ada hal yang membuatnya ragu, dan semua itu terjawab lewat penjelasannya.
“United menghubungi saya waktu itu”
Dalam wawancaranya di Rio Ferdinand Presents, Mane berkata: “Manchester United menghubungi saya waktu itu. Saya berbicara dengan van Gaal. Rooney ada di tim waktu itu, Di Maria ada, Depay ada.”

Mane menuturkan van Gaal bahkan menelponnya secara personal, menjelaskan betapa ia menginginkan Mane ke Old Trafford. Namun, pemain Senegal itu bukan tipe yang mudah percaya janji manis tanpa kepastian.
Dalam versi Mane, telepon itu berjalan seperti ini: “Van Gaal bilang, ‘Mane, saya ingin kamu datang ke Manchester United.’
Saya bilang, ‘Benarkah?’
Dia bilang, ‘Ya. Kamu pemain bagus. Kalau kamu tampil baik di latihan, kamu akan main.’”
Dan di titik itulah Mane mulai mengernyitkan dahi. Main kalau bagus di latihan? Buat pemain muda yang sedang butuh bimbingan dan kepastian, kalimat itu justru jadi red flag.
@olahbolacom Siapa yang Hit dan Miss di MU versi kamu sob? manchesterunited
♬ suara asli – OlahBola.com – OlahBola.com
Pemain-Pemain yang Jadi Saingan Mane
Saat itu, United memiliki Wayne Rooney, Memphis Depay, Angel Di Maria, Robin van Persie. Squad depth itu membuat Mane bertanya langsung pada van Gaal: “Anda punya Depay, Rooney, Di Maria, van Persie. Jadi saya bakal main di mana?”
Jawaban van Gaal tidak memuaskan. Ia berkata Mane akan bermain kalau bisa menunjukkan impresi bagus. Masalahnya: Mane merasa dirinya masih muda dan belum cukup konsisten.
Di sinilah logika manusiawi Mane muncul. Ia jujur bahwa dirinya butuh pelatih yang lebih bisa memimpin dan membimbingnya, bukan sekadar memberikan peluang bersyarat.
Mane pun berkata: “Saya tidak yakin dengan penjelasannya. Saya masih muda, belum konsisten. Saya butuh seseorang yang bisa membimbing saya lebih dekat selama satu atau dua tahun lagi untuk menjadi yang saya inginkan.”
Dan dari sinilah lahir twist-nya: keputusan untuk tidak melanjutkan pembicaraan dengan Manchester United.
“Ketika mereka gagal mendapatkan saya, mereka membeli (Anthony) Martial,” tambah Mane.

BACA JUGA: Antony Tolak Munchen Pilih Balik ke Betis, Apa Alasannya?
Liverpool Datang di Waktu yang Tepat
Sementara Manchester United memberi ketidakpastian, Liverpool datang dengan pendekatan yang lebih cocok dengan lebih personal, lebih jelas, dan membuat Mane merasa dihargai sebagai pemain yang akan dibangun, bukan sekadar dicoba-coba.
Setelah dari Southampton, Mane bergabung dengan Liverpool pada 2016 dengan biaya transfer 30 juta poundsterling. Di musim pertamanya langsung jadi pemain inti The Reds. Bayangkan nasibnya jika memilih jalan ke Old Trafford?
Sisanya Mane menjadi sejarah: 269 pertandingan, 120 gol, 46 assist, membentuk trio paling berbahaya di Eropa bersama Salah dan Firmino, serta medali Liga Champions dan Premier League.

Tottenham Sempat Goda Mane Juga
Menariknya, Mane mengaku ia juga berbicara dengan Mauricio Pochettino sewaktu melatih di Tottenham. Ia sangat tertarik dengan proyek Pochettino, namun transfer tersebut tidak pernah terwujud.
Kalau dipikir-pikir, semesta mungkin memang sudah menyiapkan jalan paling ideal untuk Mane: ke Liverpool, bukan ke Spurs, bukan ke United. Dan untuk fans Liverpool, mungkin ini salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuat seorang pemain.
FAKTA TERBARU:




