Wonderkid Chelsea bernama Ricardo Prasel ini kisahnya bisa bikin banyak orang geleng kepala. Bayangkan, dari sempat merasakan latihan bareng Didier Drogba dan Michael Ballack, kini ia banting setir jadi petarung MMA kelas berat.
Prasel, kiper jangkung 202 cm asal Brasil, bergabung ke Chelsea pada 2009 saat usianya masih muda. Meski statusnya “hanya” kiper cadangan, kiper kelahiran tahun 1990 tersebut tetap berlatih bersama Petr Cech dan Henrique Hilario di bawah arahan Carlo Ancelotti. Bagi pemain muda, berada di antara bintang dunia tentu rasanya seperti mimpi.

Namun, perjalanan itu singkat. Pada 2010 ia meninggalkan Stamford Bridge, lalu memutuskan pensiun dini pada usia 21 tahun karena cedera pinggul. Nasib aneh memang, dari label wonderkid Chelsea, tiba-tiba hidupnya berubah drastis.
Dulu Sasaran Tendangan Drogba, Kini Tendangan di Oktagon
Prasel pernah mengenang masa latihannya di Cobham: setiap selesai latihan usai, Didier Drogba dan Michael Ballack rutin berlatih tendangan bebas dan adu penalti selama setengah jam melawannya. Dan kedua pemain itu seringkali berhasil mengenai target yang ditetapkan.

“Di Chelsea saya bergaul baik dengan semua orang. Bergaul dengan mereka para pemain hebat (Drogba dan Ballack) selama beberapa bulan adalah keajaiban pada waktu itu. Saya berada di antara banyak para pemain terbaik di dunia,” ujar Prasel dilansir dari Daily Star.
Coba bayangkan: dulu dia jadi korban tendangan maut Drogba, sekarang justru dia yang melepaskan tendangan keras ke wajah lawannya di MMA. Ironi yang kocak tapi juga inspiratif.
Dari Jiu-jitsu ke Gelanggang MMA
Setelah pensiun tahun 2011, Ricardo Prasel merasa karier atletiknya tamat. Sampai akhirnya, sang kakak mengenalkan jiu-jitsu. Dari sana, pintu baru terbuka: ia mulai menang di turnamen grappling dan kemudian banting setir ke MMA.
Ia bahkan pernah menyabet gelar juara kelas berat di Aspera Fighting Championship Brasil, salah satunya lewat submission hanya 42 detik di ronde pertama!
BACA JUGA: Pemain Terbaik Versi Mourinho: Bukan Ronaldo atau Messi
Antara Chelsea dan MMA: Mana yang Membahagiakan?
Banyak yang mengira momen terindah seorang pemain muda adalah saat menandatangani kontrak dengan klub sebesar Chelsea. Tapi bagi Ricardo Prasel, jawabannya justru berbeda.
“Ketika suatu hari nanti saya memenangkan gelar juara MMA, saya akan lebih bahagia daripada saat menandatangani kontrak dengan Chelsea,” katanya.

Kini, di Brasil, ia lebih dikenal sebagai petarung MMA ketimbang eks pemain bola. Masuk ke olahraga baru, kini Prasel telah memenangkan 13 dari 18 pertandingan MMA profesionalnya dan sering memanfaatkan tendangannya yang keras sebagai kelebihannya.
Laga Prasel di oktagon selanjutnya pada 20 September 2025 melawan petarung kelahiran Polandia, Szymon Bajor.
Opini OlahBola: Takdir Selalu Mengantar ke Hal Baik Untuk yang Berusaha
Ricardo Prasel yang akrab dijuluki “Alemão” dalam bahasa Inggris artinya “Si Jerman” karena garis keturunan dari orang tuanya serta posturnya jangkung dan kekar layaknya orang Eropa, ia tidak langsung banting setir ke MMA setelah pensiun dari sepakbola.
Ia lebih dulu menuntaskan kuliah di bidang Pendidikan Jasmani sebelum akhirnya serius menekuni dunia MMA. Meski gagal meraih kontrak UFC usai kalah di ajang Dana White’s Contender Series, reputasinya tetap terjaga karena berhasil meniti karier di KSW, salah satu promotor MMA terbesar di Eropa, di mana ia dikenal sebagai petarung kelas berat yang disegani.

Kisah Ricardo Prasel adalah contoh nyata bahwa hidup atlet penuh tikungan tak terduga. Dari wonderkid Chelsea yang jadi sasaran tendangan Drogba, kini ia berubah jadi petarung yang menebar tendangan maut di MMA. Mungkin terdengar ironis, tapi justru itulah yang membuat kisahnya menarik: berawal dari cedera, masa peralihan, dan akhirnya kebangkitan.
FAKTA TERBARU: