Dalam dunia sepak bola modern, mogok main adalah dosa besar, apalagi demi memaksa transfer. Kasus terbaru datang dari Cristiano Ronaldo, yang disebut-sebut mulai “menarik rem tangan” dalam komitmennya bersama Al-Nassr.
Semua berakar pada PIF (Public Investment Fund), lembaga negara Arab Saudi yang menaungi beberapa klub besar sekaligus. Dalam struktur ini, Al-Nassr dan Al-Hilal berada di bawah payung kepemilikan yang sama, tetapi tidak diperlakukan sama. Al-Hilal dinilai lebih “diprioritaskan”, dapat dilihat dengan lebih cepat bergerak di bursa transfer.
Situasi itu makin memanas ketika muncul kabar bahwa Al-Hilal sudah mendatangkan Karim Benzema, rekan lama Ronaldo di level elite Eropa. Dari sudut pandang Ronaldo, pesan yang muncul cukup jelas: ia adalah ikon terbesar liga, tetapi klubnya justru tertinggal dalam hal ambisi dan dukungan.
@olahbolacom Megawati, Evan dan Struick atlet idolanya aktris Nadya Arina Kalau top 3 atlet idola kamu yang lintas cabor siapa aja sob? #SEAGAMES2025 #olahragatiktok
♬ original sound – OlahBola.com – OlahBola.com
Di usia 40 tahun, waktu bukan lagi sekutu Ronaldo. Ia ingin bermain di tim yang siap juara sekarang, bukan proyek jangka panjang yang tertahan oleh birokrasi dan politik internal klub. Pertanyaannya sederhana: Apakah mogok main jadi jalan pintas menuju karir impian, atau justru tiket ke penyesalan?
Berikut 10 kisah nyata pemain yang pernah mogok main, namun hasil akhirnya tidak selalu manis.
Alexander Isak
Newcastle United → Liverpool

Kasus Alexander Isak bisa dibilang textbook modern. Ia “mendinginkan diri” di Newcastle demi memaksa kepindahan ke Liverpool. Fans marah, manajemen keras kepala, sampai akhirnya Liverpool memecahkan rekor transfer Inggris £130 juta.
Ironisnya? Yang justru bersinar di Anfield adalah pemain anyar Liverpool lainnya, Hugo Ekitike, sementara Isak masih berjuang pulih dari cedera lutut.
Karma atau kebetulan? Jawabannya mungkin baru jelas musim depan.
Diego Costa
Chelsea → Atletico Madrid

Diego Costa dua kali menjadi aktor utama yang mengantarkan Chelsea meraih gelar Premier League, pertama di bawah asuhan Jose Mourinho, lalu bersama Antonio Conte. Namun, hubungan Costa dan Conte tidak berjalan mulus pada musim keduanya bersama pelatih asal Italia tersebut.
Situasi mencapai titik nadir ketika Conte secara blak-blakan memberi tahu Costa lewat pesan singkat bahwa ia tidak masuk dalam rencana Chelsea untuk musim 2017/18. Sang striker pun bereaksi keras: ia menolak kembali ke London dan memilih pulang ke Brasil saat rekan-rekannya sudah menjalani latihan pramusim.
Costa akhirnya mendapatkan kepindahan yang ia inginkan dengan kembali ke Atletico Madrid, meski baru terealisasi pada Januari 2018. Pada periode keduanya bersama Atletico, ia kembali meraih gelar La Liga.
Clint Dempsey
Fulham → Tottenham

Legenda Amerika Serikat, Clint Dempsey, ogah bermain untuk Fulham saat menghadapi Norwich City di awal musim Premier League 2012/13, karena mengincar kepindahan ke Liverpool.
Tapi hidup tak selalu sesuai wishlist. Ia malah mendarat di Tottenham Hotspur, bertahan satu musim di London Utara sebelum kembali ke MLS bersama Seattle Sounders. Mogoknya berhasil, tapi tujuannya meleset.
Menariknya, Dempsey kemudian kembali ke Fulham sebagai pemain pinjaman pada 2014, sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu.
Matheus Nunes
Wolves → Manchester City

Mogok kecil-kecilan Matheus Nunes berujung manis. Pindah ke Manchester City, sempat kesulitan menembus tim utama, jarang mendapat menit bermain, kini justru “naik kelas” sebagai full-back ala Pep Guardiola.
Dengan Wolves terancam degradasi dari Premier League, ini jelas membuktikan bahwa taruhan kepindahan Nunes pada 2023 bisa dibilang menang.
BACA JUGA: Saya Menyesal Pilih Liverpool Seharusnya Gabung ke Man United
George Best
Manchester United → (karir terjun bebas)

Berbeda dari yang lain, George Best bukan mogok demi transfer, tapi mogok demi gaya hidup ala rockstar khas era 1970-an. Alkohol, pesta, dan konflik dengan manajer saat itu, Tommy Docherty membuatnya keluar dari Manchester United.
Best dicoret dari tim setelah menjalani pesta minuman keras selama tiga hari berturut-turut. Masalah alkoholisme yang ia alami kemudian membuat karirnya terus merosot, berpindah-pindah klub di divisi bawah, bahkan hingga melanglang buana ke Amerika Serikat dan Afrika Selatan.
Setelah meninggalkan Old Trafford pada 1974, Best tidak pernah lagi tampil di level tertinggi. Bakat bisa mengangkatmu, tapi disiplin yang mempertahankanmu.
Riyad Mahrez
Leicester City → Manchester City

Kalau mau contoh mogok yang 100% sukses, lihat Riyad Mahrez. Dua kali menekan Leicester pada musim panas 2017 dan musim dingin berikutnya, tapi dua kali gagal, dan sebagai bentuk tekanan ke klub, ia memilih absen dari sesi latihan Leicester.
Kepindahan yang ia idamkan akhirnya terwujud pada Juli 2018. Mahrez kemudian menghabiskan lima tahun di lini depan Manchester City. Hasilnya? Empat gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions. Kadang keras kepala memang mahal, tapi sepadan.
Paul Scholes
Hampir Pergi, Tapi Bertahan di MU
Jarang terjadi: Paul Scholes sempat menolak bermain. Pada 2001, produk akademi klub tersebut sempat dicadangkan dalam sebuah laga liga dan bereaksi dengan menolak bermain melawan Arsenal di ajang Piala Liga.

Belakangan, Scholes mengakui bahwa tindakannya saat itu adalah sebuah kebodohan. Keputusan Scholes untuk tetap bertahan justru menjadi langkah terbaik dalam karirrnya dengan mengamankan posisinya sebagai salah satu pesepakbola Inggris paling bertabur trofi sepanjang masa.
Carlos Tevez
Manchester City (Bertahan)
Carlos Tevez pernah membela dua kubu yang saling bermusuhan di Manchester, jadi loyalitasnya memang diragukan. Ketika ia menolak masuk sebagai pemain pengganti dalam sebuah pertandingan di awal musim 2011/12, situasinya langsung memunculkan dugaan bahwa ia akan kembali hengkang.
Pihak klub menjatuhkan sanksi disipliner, dan Tevez pun tersingkir dari skuad selama berbulan-bulan. Namun, ia kemudian menegaskan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar mogok bermain, dan menyebut insiden tersebut hanyalah kesalahpahaman besar.

Setelah enam bulan absen, Tevez kembali merumput pada Maret dan kemudian mencetak gol-gol krusial yang membantu Manchester City menjuarai liga. Sepak bola kadang absurd, dan bisa memaafkan lebih cepat dari yang kita kira.
FAKTA TERBARU:




