Penalti adalah momen paling jujur dalam sepak bola. Tidak ada taktik rumit. Tidak ada rekan untuk disalahkan. Hanya penendang, kiper, dan jutaan pasang mata yang menahan napas.
Satu langkah salah bisa mengubah segalanya: dari pahlawan bisa menjadi simbol tragedi. Dari nama harum menjadi meme seumur hidup.
Pada final Piala Dunia hingga malam kelam Liga Champions, berikut 10 kegagalan penalti paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola, bukan sekadar gagal masuk, tapi gagal yang meninggalkan luka.
10. Mohamed Salah – Play-off Piala Dunia 2022
Setelah “kesalahan strategi” di final AFCON 2021 (menyimpan Salah sebagai penendang kelima yang tak pernah datang), kali ini Mohamed Salah tak mau menunggu.
Namun takdir kembali kejam. Meski Senegal gagal di dua penalti awal, Salah justru menjadi satu dari tiga eksekutor Mesir yang gagal.
Dan ya, ia menendang sambil dibutakan laser hijau dari tribun. Kalau ini terjadi di Indonesia, sudah viral 7 hari 7 malam.
9. Jadon Sancho – Final Euro 2020
Kegagalan ini bukan hanya soal penalti, tapi titik balik karier. Jadon Sancho gagal di final Euro 2020, lalu menjadi korban dari salah satu episode tergelap sepak bola Inggris: rasisme massal kepada para pemain timnasnya.
Para penendang penalti yang gagal di laga tersebut, Marcus Rashford dan Bukayo Saka kini berhasil bangkit bersama klubnya masing-masing. Sancho? Tidak.
Pindah ke Manchester United dengan harga mahal, performanya tak pernah benar-benar pulih. Sejak malam itu, ia hanya sekali lagi membela Inggris. Lawannya? Andorra.
Pedihnya bukan cuma gagal penalti. Tapi gagal bangkit.
8. David Trezeguet – Final Piala Dunia 2006
Jujur saja. Banyak orang bahkan lupa David Trezeguet yang gagal penalti di final 2006. Kenapa? Karena dunia lebih sibuk membicarakan Zinedine Zidane dan sundulan kepalanya ke Marco Materazzi.
Trezeguet menghantam mistar di Berlin. Tapi ia sudah juara dunia 1998. Luka ada, tapi tidak menganga.
7. Stuart Pearce – Semifinal Piala Dunia 1990
Stuart Pearce gagal penalti melawan Jerman Barat di Italia ’90. Enam tahun kemudian, ia menebusnya di perempat final Euro ’96 ketika berhasil menjadi algojo penalti yang sukses menceploskan bola ke gawang Spanyol.
“Kegagalan bukan soal ‘gagal’ lagi. Kegagalan adalah tidak berani mencoba,” ujar Pearce. Kalimat itu bukan motivasi biasa tapi, itu trauma yang disembuhkan dengan keberanian.
6. Gareth Southgate – Semifinal Euro 96
Inilah titik awal kutukan penalti Inggris. Di Wembley, Gareth Southgate gagal di sudden death melawan Jerman. Inggris tersingkir.
Empat turnamen besar berikutnya, Inggris kembali kalah lewat adu penalti.
Ironisnya? Kutukan itu baru patah di 2018, saat Southgate berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih. Sepak bola memang suka drama yang kejam.
BACA JUGA: Jika Tak Ada Pemain Ini, Mane 100% Gabung Manchester United
5. John Terry – Final Liga Champions 2008
Hujan di Moskow. Sepatu tergelincir. Momen abadi. John Terry seharusnya tidak masuk lima penendang awal. Tapi kartu merah Didier Drogba mengubah segalanya.
“Aku masih memikirkan penalti itu sampai hari ini. Kadang aku terbangun dan teringat kembali,” kata Terry kepada FourFourTwo.
Empat tahun kemudian, ia akhirnya juara Liga Champions. Tapi luka 2008? Tidak pernah benar-benar sembuh.
“Trofi-trofi yang kamu raih memang sangat berarti, tapi justru yang gagal kamu menangkan bisa terus menghantui. Saya tidak akan pernah benar-benar bisa move on dari momen itu.”

4 & 3. Kingsley Coman & Aurelien Tchouameni – Final Piala Dunia 2022
Di final paling dramatis sepanjang sejarah Piala Dunia, Prancis harus menyerah lewat adu penalti melawan Argentina.
Dua nama yang gagal: Kingsley Coman dan Aurelien Tchouameni. Keduanya tidak ikut skuad juara 2018. Ini seharusnya jadi momen mereka. Tapi penalti Coman ditepis, sementara sepakan Tchouameni melebar.

2. Brahim Diaz – Final AFCON 2025
Ini masih segar. Dan itu yang membuatnya terasa lebih sakit. Final. Kandang sendiri. Negara menunggu untuk juara selama 50 tahun.
Brahim Diaz mendapat penalti penentu di injury time. Ia memilih panenka. Bukan cuma gagal. Tapi gagal dengan cara yang membuat orang bertanya: “Ini sengaja?”
Dari situ, Senegal menang di extra time. Dan satu negara terdiam.
1. Roberto Baggio – Final Piala Dunia 1994
Tak tergantikan. Tak tertandingi. Roberto Baggio. Final Piala Dunia. Tendangan terakhir. Bola melambung.
“Jika saat itu aku punya pisau, aku akan menusuk diriku sendiri. Jika punya pistol, aku ingin menembak diri sendiri,” kata Baggio kepada The Athletic.
Tidak ada penalti yang lebih berat dari ini. Dan mungkin, tidak akan pernah ada.
Memang penalti bukan sekadar teknik. Ia adalah ujian mental, sejarah, dan keberanian. Sebagian bangkit. Sebagian tenggelam. Tapi semuanya manusia. Dan justru karena itulah, kita tidak pernah berhenti menonton sepak bola.
FAKTA TERBARU:




